Ini Penjelasan Detil Mengapa KLHS Pegunungan Kendeng Butuh Waktu Lama

Sebaliknya, jika tim tidak menemukan jaringan sungai bawah tanah di sana, maka aktivitas pertambangan karst boleh dilaksanakan.

Ini Penjelasan Detil Mengapa KLHS Pegunungan Kendeng Butuh Waktu Lama
Fabian Januarius Kuwado
Dirjen Planologi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan San Afrie. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kajian lingkungan hidup Strategis (KLHS) kawasan pertambangan karst di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian.

Direktur Jenderal Planologi Kementerian lingkungan hidup San Afri mengatakan, satu di antara poin yang dikaji adalah kondisi geologis 200 hingga 300 meter di bawah tanah kawasan pertambangan milik PT Semen Indonesia.

Namun, kajian seperti itu membutuhkan waktu cukup lama sehingga peneliti mengambil cara lain untuk memastikan kondisi bawah tanah kawasan itu.

"Kami pada akhirnya hanya melihat indikasinya saja. Maka itu, ini perlu kehati-hatian supaya tepat," ujar Afri di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin (20/3/2017).

"Jika pendalaman, memang lebih dalam. Butuh waktu lama. Kajian geologisnya butuh 200-300 meter di bawah tanah, bagaimana melihat itu kan," lanjut dia.

Jika di bawah kawasan itu, tim menemukan jaringan sungai bawah tanah, dipastikan hasil KLHS merekomendasikan tidak boleh ada aktivitas pertambangan di atasnya. Kawasan tersebut mesti dilindungi.

Sebaliknya, jika tim tidak menemukan jaringan sungai bawah tanah di sana, maka aktivitas pertambangan karst boleh dilaksanakan.

Afri mengatakan, tim akan merampungkan KLHS akhir bulan ini dan dapat dipublikasikan April 2017 mendatang.

Ia sendiri belum bisa menjelaskan hasil terkini dari kajian itu.

"Belum bisa saat ini. Justru satu pekan ke depan ini proses yang paling krusial. Karena 'finishing touch'-nya itu independensinya para pakar, Jadi tunggu saja, sabar," ujar dia.

Halaman
12
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help