Sekitar 25 Persen Warga Jawa Tengah Alami Gangguan Jiwa Ringan

Data yang tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng, satu dari empat orang atau sekitar 25 persen warga Jawa Tengah mengalami gangguan jiwa

Sekitar 25 Persen Warga Jawa Tengah Alami Gangguan Jiwa Ringan
Facebook | Hendro Priyono
Orang gila tidur di sawah bikin geger warga 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Data yang tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng, satu dari empat orang atau sekitar 25 persen warga Jawa Tengah mengalami gangguan jiwa ringan. Sedangkan kategori gangguan jiwa berat rata-rata 1,7 per mil atau kurang lebih 12 ribu orang.

Hal itu diungkapkan Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah, Dinkes Provinsi Jateng, dr Amino Gondohutomo, dr Sri Widyayati pada acara dialog bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di RSJD dr Amino Gondohutomo, Jalan Majapahit Kota Semarang, Senin (20/3/2017).

Kondisi tersebut harus mendapatkan penanganan serius dari pemerintah maupun masyarakat karena berpengaruh terhadap penurunan produktivitas masyarakat.

"Penyebab mereka terkena ganguan jiwa, multifaktor. Sedangkan pencetusnya bisa karena kemiskinan, gejolak lingkungan, atau masalah keluarga," katanya.

Ia mengatakan, dari riset bidang kesehatan, penanganan gangguan jiwa menyedot anggaran triliunan rupiah atau jauh lebih tinggi dari anggaran untuk menangani penderita berbagai penyakit lain, yang hanya miliaran rupiah. Sebab pengidap gangguan jiwa kategori berat tidak bisa lagi produktif.

"Pasien yang masuk ke RSJD Amino Gondohutomo tahun ini mengalami penurunan drastis. Sebab, sekarang di setiap RSUD sudah ada klinik spesialis jiwa lengkap dengan dokter syaraf, yang siap melayani pasien pengidap gangguan jiwa ringan," katanya Sri.

Saat ini, lanjutnya, pelayanan RSJD milik Pemprov Jateng terus ditingkatkan. Selain menerima pasien rujukan tersier khusus pengidap gangguan jiwa, juga melayani pasien umum dari berbagai daerah.

Kebijakan tersebut sesuai dengan visi pengembangan pelayanan kepada masyarakat sekaligus upaya antisipasi agar aset pemprov tidak redup.

"Kami setiap hari melakukan pelayanan secara optimal, juga menyediakan informasi pelayanan public," katanya," katanya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, pemerintah harus memperhatikan dan mengurus beragam masalah yang ada di masyarakat, termasuk persoalan penanganan kesehatan jiwa dan raga warga. Maka rumah sakit rumah sakit diharapkan melakukan beragam program yang inovatif.

"Yang dibutuhkan rumah sakit jiwa adalah inovasi. Apalagi dari empat orang satu di antaranya alami gangguan jiwa ringan," ungkap Ganjar.

Menurutnya, dari pihak rumah sakit dapat mengembangkan konseling, gencarkan permeriksaan kejiwaan dengan berkeliling ke sekolah-sekolah, jalan, bahkan ke kalangan pegawai.

"Siapa tahu yang setiap hari merawat penderita gangguan jiwa, lalu ketularan," kelakarnya.(*)

Penulis: m nur huda
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help