TribunJateng/

Bank Indonesia Perketat Proses Pemindahbukuan Dana Lewat Surat Perintah dari Nasabah

Penyempurnaan aturan ini bertujuan meningkatkan keamanan penggunaan bilyet giro, pasalnya banyak bilyet giro yang dipalsukan

Bank Indonesia Perketat Proses Pemindahbukuan Dana Lewat Surat Perintah dari Nasabah
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mengeluarkan aturan baru terkait bilyet giro. Aturan yang berlaku per 1 April 2017 ini berisikan di antaranya, mengenai masa berlaku maksimal 70 hari. Sebelumnya, masa berlaku bilyet giro maksimal 70 hari plus enam bulan.

Kepala Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran, Dyah Virgoana Gandhi Nana mengatakan, selain mengenai masa berlaku, syarat formal juga diperketat. Yang diwajibkan, semisal, tanggal penarikan, tanda tangan basah penarik, juga tanggal efektif.

BI juga memangkas besaran kliring bilyet giro yakni maksimal hanya Rp 500 juta dari saat ini tak terbatas. "Penyempurnaan aturan ini bertujuan meningkatkan keamanan penggunaan bilyet giro, pasalnya banyak bilyet giro yang dipalsukan," ujarnya, Senin (20/3).

Selain itu, ketentuan baru ini juga membatasi jumlah koreksi maksimal tiga kali pada seluruh kolom kecuali tanda tangan. Bila melewati batasan tersebut, secara otomatis, nasabah akan dimasukan ke dalam daftar hitam nasional.

Bilyet giro adalah surat perintah dari penarik kepada bank tertarik untuk melakukan pemindahbukuan sejumlah dana kepada rekening penerima. Aturan baru ini tertuang dalam PBI No 18/41/PBI/2016 tentang Bilyet Giro yang dilengkapi Surat Edaran (SE) BI No 18/40/DPSP tentang Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal oleh BI.

Kepala Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran BI, Ery Setiawan menjelaskan, ketentuan peralihan dari aturan baru ini antara lain untuk Bilyet Giro yang diterbitkan sebelum 1 April maka tetap dapat dibayarkan sampai dengan berakhirnya masa berlaku Bilyet Giro mengacu pada peraturan lama.

Selain itu, bilyet giro dengan format lama masih dapat digunakan paling lambat 31 Desember 2017. "Untuk transaksi di atas Rp 500 juta bukan tidak boleh, melainkan dianjurkan untuk menggunakan bilateral saja," kata Ery.

BI mencatat volume transaksi cek dan bilyet giro saat ini didominasi transaksi dengan nominal sampai dengan Rp 500 juta yaitu mencapai 98,96 persen atau sebanyak 33,47 juta transaksi per akhir 2016 lalu. Sementara itu, dari sisi nominal transaksi cek dan bilgyet giro juga didominasi dengan nominal sampai dengan Rp 500 juta yaitu mencapai 69,18 persen atau Rp 1,03 triliun. (kontan/laurensius marshall sautlan sitanggang)

Editor: Catur waskito Edy
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help