Petani Kendeng Masuk Istana dengan Kaki Terbelenggu Cor Semen

Dengan kedua kaki terbelenggu semen, empat orang perwakilan petani dari Pegunungan Kendeng yang menolak pabrik semen di Rembang masuk ke Istana

Petani Kendeng Masuk Istana dengan Kaki Terbelenggu Cor Semen - naik-troli-karena-kaki-dicor-semen-penolak-pabrik-semen-kendeng_20170321_072658.jpg
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petani Kendeng Masuk Istana dengan Kaki Terbelenggu Cor Semen - kaki-penolak-pabrik-semen-dicor-semen-di-depan-istana-presiden_20170321_072401.jpg
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petani Kendeng Masuk Istana dengan Kaki Terbelenggu Cor Semen - penolak-pabrik-semen-cor-kaki-di-depan-istana-merdeka_20170321_072133.jpg
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petani Kendeng Masuk Istana dengan Kaki Terbelenggu Cor Semen - cor-semen-kaki-di-depan-istana-presiden-menolak-pabrik-semen_20170321_072418.jpg
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Dengan kedua kaki terbelenggu semen, empat orang perwakilan petani dari Pegunungan Kendeng yang menolak pabrik semen di Rembang masuk ke Istana Kepresidenan, Senin (20/3) sore. Mereka bertemu dengan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Teten Masduki.

Para petani itu, yang terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan, datang ke Kantor Staf Presiden sekitar pukul 16.40. Dua dari mereka, Sukinah, petani asal Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, dan Gunretno, tokoh Komunitas Adat Sedulur Sikep Pati dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).

Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017).  TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Keempat petani naik dua mobil Kijang Innova. Proses mengeluarkan mereka dari mobil terbilang sulit. Pihak pendamping mesti menaruh troli di depan pintu mobil terlebih dahulu. Setelah itu, pendamping mengangkat kaki para penolak di atas troli.

Tidak hanya itu, para pendamping juga mesti mengangkat tubuh para petani Kendeng dan aktivis penolak pabrik semen itu agar bisa berdiri stabil di atas troli. Setelah stabil, pendamping mendorong troli ke dalam lift Kantor KSP, Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Presiden, untuk bertemu Teten Masduki di lantai dua.
Saat tiba di Kantor Staf Presiden, keempat perwakilan penolak pabrik semen itu belum bersedia berbicara di depan media. Mereka memilih untuk menunggu hasil pertemuan terlebih dahulu.

Perwakilan penolak pabrik semen itu didampingi Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Joko Priyanto, dan Ketua Bidang Advokasi Hukum dan HAM Kontras, Haris Azhar. Deputi Kementerian BUMN dan Deputi Kementerian lingkungan hidup dan Kehutanan juga tampak hadir dalam pertemuan tersebut.

Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017).  TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Keempat petani tersebut merupakan wakil para petani Kendeng yang menolak kehadiran pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng, yakni pegunungan di selatan Kabupaten Pati dan Rembang. Para petani penolak pabrik semen telah berkali-kali berunjuk rasa di depan istana. Terakhir, mereka berunjuk rasa dan melakukan aksi cor semen pada kaki, sejak Senin (13/3) pekan lalu.

Aksi yang berlangsung, sejak Senin (13/3) lalu itu, kini diikuti 50 petani. Mereka memprotes izin lingkungan baru yang ditandatangani Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Izin tersebut membuat aktivitas penambangan PT Semen Indonesia berjalan. Padahal penambangan itu yang diprotes para petani Kendeng. Mereka menuntut Presiden Joko Widodo mencabut izin lingkungan bagi PT Semen Indonesia yang dikeluarkan Ganjar.

Tetap berlanjut

Seusai pertemuan dengan Teten, para petani Pegunungan Kendeng merasa tidak mendapatkan solusi. Tokoh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Gunretno mengatakan, tidak ada penegasan bahwa izin operasional PT Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng yang diterbitkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, akan dicabut. Pada saat yang sama, tuntutan petani untuk bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo juga tidak bisa dipenuhi.

Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017).  TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah petani dari Pegunungan Kendeng bersama sejumlah aktivis melakukan aksi memasung kaki dengan kaki dicor semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/3/2017). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

"Pertemuan ini tidak ada hasilnya," kata Gunretno, seusai pertemuan dengan Teten, Senin petang Kendati demikian, Gunretno mengapresiasi langkah Teten yang telah mempertemukan dirinya dengan PT Semen Indonesia. Dalam pertemuan, PT Semen Indonesia juga sudah berjanji tidak akan beroperasi hingga KLHS keluar.

Namun, Gunretno menilai komitmen itu tidak ada artinya apabila izin operasional yang diterbitkan Ganjar tetap ada. Petani Kendeng akan tetap melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Merdeka, Jakarta. "Kami akan tetap aksi sampai izin dicabut," ucap Gunretno. (tribunjateng/cetak/Tribun Network/den/nic/kps)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help