Ketua BPK2L Akan Kaji Keberadaan Minimarket dan Sembilan Tempat Karaoke

Ketua BPK2L yang juga Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu mengatakan keberadaan minimarket dan sembilan tempat hiburan karaoke

Ketua BPK2L Akan Kaji Keberadaan Minimarket dan Sembilan Tempat Karaoke
TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti meninjau kondisi Kota Lama, Senin (7/11/2016) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Pemkot Semarang sedang berupaya menempatkan kawasan Kota Lama masuk kawasan warisan budaya dunia UNESCO. Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang sedang mengkaji keberadaan minimarket dan tempat hiburan karaoke agar tidak menjadi pengganjal proses pengajuan administrasi ke UNESCO.

Ketua BPK2L yang juga Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu mengatakan keberadaan minimarket dan sembilan tempat hiburan karaoke mendapatkan izin sehingga Pemkot tidak bisa melakukan pembongkaran.

"Akan kami kaji dulu jangan sampai keberadaan minimarket dan tempat karaoke bisa jadi ganjalan proses pengajuan. Kajian ini untuk menentukan langkah kami ke depannya," ujarnya, Senin (27/3).

Ita, sapaan akrab Hevearita, mengatakan penilaian warisan budaya dunia tidak hanya dilihat kondisi bangunan, juga terkait kehidupan, pemanfaatan, dan lainnya.

"Keberadaan karaoke dan minimarket, di sisi lain membuat Kota Lama menjadi hidup, karena penilaian dari UNESCO juga menyangkut kehidupan yang ada," ujarnya.

Saat ini, kata Ita, tim sedang berupaya mendapatkan data sejarah Kota Lama sebagai salah satu syarat dokumen.

"Kota Lama masih berlanjut masuk daftar sementara warisan budaya dunia. Sementara Kota Tua Jakarta dan Kota Tua Sawah Lunto tereliminasi. Dengan masih adanya peluang masuk warisan dunia kami tidak akan disia-siakan. Kami akan upayakan bisa masuk warisan budaya dunia karena akan berdampak besar bagi Kota Lama, Semarang, dan masyarakat sekitar," ujarnya.

Sementara itu, anggota BPK2L bagian Operasional, Agus Suryo Winarto mengatakan keberadaan sembilan karaoke dianggap mengganggu setetika cagar budaya. Selain itu, masih terdapat beberapa benda yang peletakannya masih melanggar aturan penataan cagar budaya.

"Misalnya kondisi tiang-tiang milik perusahaan telekomunikasi. Tiang-tiang tersebut melanggar aturan Perda karena berdiri di pedestrian cagar budaya. Perdanya sudah diatur sejak 2003. Tiang-tiang listrik saja tidak boleh, apalagi adanya sembilan karaoke karena mengganggu estetika cagar budaya," ujarnya.

Penataan kawasan Kota Lama, kata Agus, terbilang kompleks sehingga penataan dilakukan secara bertahap. "Kami sedang menata secara bertahap mulai keberadaan PKL (Pedagang Kaki Lima), bangunan dan lainnya," ujarnya.(*)

Penulis: galih permadi
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help