TribunJateng/

Rofi’i Minta Pemkot Tak Tebang Pilih Memberikan Fasilitas Publik

dia bersama beberapa rekannya sukses menggelar Deklarasi Forkoes di Halaman Kantor DPRD Jalan Letjend Sukowati Kota Salatiga, Selasa (4/4/2017)

Rofi’i Minta Pemkot Tak Tebang Pilih Memberikan Fasilitas Publik
istimewa
Anak- anak perwakilan penyandang disabilitas sedang menyampaikan harapannya di hadapan beberapa anggota DPRD Kota Salatiga dalam Deklarasi dan Audiensi Forum Komunikasi Difabel Salatiga (Fokoes) di Halaman DPRD Jalan Letjend Sukowati Kota Salatiga, Selasa (4/4/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Muh Rofi’i (40), Ketua Harian Forum Komunikasi Difabel Kota Salatiga (Fokoes) bersyukur, kegiatan yang telah diprogramkan sejak awal tahun, akhirnya berjalan lancar.

Diinformasikannya, dia bersama beberapa rekannya sukses menggelar Deklarasi Forkoes di Halaman Kantor DPRD Jalan Letjend Sukowati Kota Salatiga, Selasa (4/4/2017).

Selain mendeklarasikan diri pembentukan Forkoes, kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari tersebut pun ditampilkan beberapa pertunjukan difabel, pameran karya masyarakat difabel Salatiga, dan juga pemaparan doa serta harapan mereka, para kaum difabel terhadap DPRD serta Pemkot Salatiga.

“Permintaan kami simpel. Kami minta agar pemerintah daerah (Pemda) serius dan tidak tebang pilih dalam memberikan fasilitas maupun program bermanfaat bagi kami, warga berkebutuhan khusus atau disabilitas di Kota Salatiga,” kata warga Kelurahan Tingkir Lor Kecamatan Tingkir Kota Salatiga itu kepada Tribun Jateng, Selasa (4/4/2017) siang.

Dia mencontohkan, hal yang dirasakan dirinya dan juga beberapa rekannya sesama disabilitas, masih sangat dirasakan adanya perbedaan perlakuan dalam perolehan pelayanan publik. Yang paling dirasakan dia dan penyandang difabel lainnya, satu di antaranya di bidang layanan kesehatan. Seakan masih ada perlakuan kurang optimal dibandingkan warga normal lainnya ketika sedang berobat.

“Baik itu di rumah sakit maupun puskesmas. Ada kesan mereka akan semakin kerepotan ketika hendak menangani atau melayani kami di saat berobat. Bahkan fasilitas seperti jalur khusus untuk kami penyandang difabel pun belum ada di fasilitas layanan kesehatan. Termasuk juga beberapa ruang publik lainnya di Salatiga,” ujarnya.

Harapan dan keinginan serupa juga disampaikan Wakil Ketua Harian Forkes, Supardi (38). Dia berharap adanya perhatian terhadap kaum difabel di Salatiga. Untuk saat ini sudah ada beberapa sektor yang diperhatikan, tetapi belum optimal.

“Kami deklarasikan ini dan di hadapan pemerintah serta wakil rakyat tujuannya agar setidaknya timbul perhatian konkret ke depannya secara optimal dari pemerintah terhadap keberadaan kami di Salatiga. Perhatiannya pun tidak sekadar lisan, tetapi diwujudkan secara nyata. Tidak pula hanya di sebagian aspek, tetapi menyeluruh,” ujar Supardi.

Sebagai contoh, lanjutnya, di aspek pendidikan. Setidaknya ada perhatian khusus pemerintah untuk memberikan pelatihan keterampilan untuk semakin menunjang kemandirian para kaum difabel dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Masih sinergi dengan pelatihan, diharapkan juga ada pemberian fasilitas pekerjaan.

“Yang kami rasa masih kurang dan belum optimal kami peroleh sejauh ini di antaranya fasilitas pendidikan keterampilan, pekerjaan, dan kesehatan. Di kesehatan saja, belum kami temukan adanya ruang layanan khusus untuk memudahkan kami dalam mengaksesnya. Kami masih disamakan dengan warga normal lainnya. Semoga itu semua berubah dan menjadi perhatian pemerintah esoknya,” pintanya. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help