TribunJateng/

Profesor LIPI Yang Juga Konsultan PT SI Sebut Banyak Informasi Menyesatkan Terkait Semen Rembang

Penyesatan informasi yang dimaksudkan, contohnya, area penambangan pabrik semen yang masuk kawasan bentang alam kars (KBAK) Kendeng.

Profesor LIPI Yang Juga Konsultan PT SI Sebut Banyak Informasi Menyesatkan Terkait Semen Rembang
Tribun Jateng/M Zaenal Arifin
Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharto, memberikan pemaparan mengenai operasional pabrik semen di Rembang dalam focus group discussion (FGD) di Hotel Grasia, Semarang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

 TRIBUNJATRENG.COM, SEMARANG - Polemik pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia di Rembang mendapat tanggapan dari Profesor Riset Bidang Perkembangan Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Hermawan Sulistyo.

Dalam focus group discussion (FGD) bertema "Mengenali Akar Konflik Pengelolaan Sumber Daya Alam Antara Keseimbangan Ekologis dan Pembangunan Berkelanjutan Kasus Semen Rembang" di Hotel Grasia, Hermawan menilai banyak terjadi penyesatan informasi terkait penolakan pabrik semen di Rembang.

"Polemik pabrik semen di Rembang ini harus segera berakhir. Karena banyak misleading information yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan," kata Hermawan yang juga konsulta PT SI Kamis (6/4/2017).

Penyesatan informasi yang dimaksudkan, contohnya, area penambangan pabrik semen yang masuk kawasan bentang alam kars (KBAK) Kendeng.

Dalam peta kars yang dipakai pemerintah, yang masuk kawasan kars Kendeng yaitu Pati, Grobogan dan Blora.

Penyesatan lainnya, sebutnya, pabrik semen menggusur lahan pertanian milik warga.

Menurutnya, penambangan dan pabrik semen Rembang berada di tanah kapur atau gamping.

Yang mana dengan jenis tanah itu, tidak mungkin hasil pertanian bisa melimpah.

"Katanya bisa menghasilkan panen hingga belasan ton per hektare. Sekarang tunjukkan ke saya orang yang bisa bertani di tanah kapur dan bisa menghasilkan panen 17 ton padi per hektar," tantangnya.

Halaman
123
Penulis: m zaenal arifin
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help