TribunJateng/

Sweet Home

Mengintip Roemah Watulawang yang Unik, Ornamen dan Interior Joglo Didapat dari Berbagai Daerah

Roemah Watulawang yang memang berada di Jalan Taman Watulawang III No 69B, Papandayan, Semarang ini memiliki luas tanah sekitar 2.000 meter persegi

Mengintip Roemah Watulawang yang Unik, Ornamen dan Interior Joglo Didapat dari Berbagai Daerah
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Pendopo Rumah Depan Joglo Watulawang 

SEMARANG, TRIBUN - Sering menghabiskan waktu sehari-harinya di Joglo Balekambang yang berada di Family House 'Roemah Watulawang', Haryanto (48) selalu merawat setiap bagian yang berada di bangunan tradisonal ini.

Setelah sepeninggal sang pemilik almarhum Heru Djatmiko MM, Haryanto dimandatkan untuk lebih fokus mengelola Roemah Watulawang.

Haryanto sudah berada di rumah ini sejak setahun setelah Roemah Watulawang ini terbangun, tepatnya di tahun 2008.

Taman Rumah
Taman Rumah (Tribun Jateng/hermawan handaka)

Roemah Watulawang yang memang berada di Jalan Taman Watulawang III No 69B, Papandayan, Semarang ini memiliki luas tanah sekitar 2.000 meter persegi.

Terdapat Joglo dari Kudus dengan model Balekambang, yang berada dekat dengan pintu masuk.

Yang menjadi pembeda dari joglo lain, pada sekelilingnya terdapat kolam ikan selebar 50 sentimeter dan kedalaman 50 sentimeter.

"Konsep Joglo Balekambang ini memang dibeli dari bongkaran rumah yang ada di daerah Kudus. Kolam yang berada di sekelilingnya berisi ikan koi yang dahulu jumlahnya hanya delapan ekor, hingga sekarang sudah 100 lebih," tuturnya kepada Tribun Jateng, Jumat (7/4) pagi.

Joglo yang beratapkan model pencu ini, berisi berbagai perabotan yang menunjukkan unsur kunonya.

"Yang ada di dalam Joglo ini semua ada nilai sejarahnya, namun yang saya ingat ya hanya beberapa. Kentongan ini beli di Jogja, lampu ambil di Bantul saat setelah terjadinya gempa di sana, meja kursi kuno belinya juga saat bapak (Heru Djatmiko MM) ada kunjungan ke daerah lain, pas kebetulan ada, ya dibeli," ucapnya. Joglo yang memiliki empat tumpang sari ini, juga diberikan tirai dari kayu bekas yang dipesan khusus di daerah Pringsurat, Temanggung. Pada setiap saka (tiang joglo) diberikan umpak yang dipesan dari Muntilan, Magelang.

"Dahulunya di sini juga ada alat musik gamelan lengkap, namun saat ini beberapa sudah dibawa di Universitas Diponegoro, karena kebetulan ibu (istri Heru Jatmiko) menjadi dosen di sana," terangnya.

Unsur rumah Jawa kuno yang ditampilkan semakin kuat dengan adanya gebyok pada sisi barat dan utara Joglo Balekambang. Lantai pada joglo juga menggunakan batu marmer.

Roemah Watulawang yang didesain sendiri oleh almarhum Heru Djatmiko MM, yang memang pernah menjabat sebagai Dirut Hutama Karya, berada di lahan yang landai. Dengan elevasi ketinggian sekitar 15 meter dari jalan pintu masuk hingga belakang rumah. Dari apa yang dikatakan Haryanto, cakar ayam yang digunakan pada Roemah Watulawang ditutup oleh buis beton.

"Buis beton itu berfungsi untuk menghindari rusaknya cakar ayam apabila tanah bergerak. Serta, tepat di belakang rumah juga dibuatkan taman sebagai resapan air jika curah hujan tinggi," pungkasnya. (*)

Penulis: faisal affan
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help