TribunJateng/
Home »

Jawa

Polisi Tembak Mati Teroris

Menelusuri Asal Senjata Api Milik Terduga Teroris Tuban

Boy menyangsikan enam senjata api rakitan itu berasal dari Cipacing, Bandung, atau dari Lampung. Diduga kelompok tersebut membeli di pasar gelap lain

Menelusuri Asal Senjata Api Milik Terduga Teroris Tuban
Istimewa
Senjata Teroris Tuban 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Polisi menemukan enam senjata api rakitan dari kelompok terduga teroris yang beraksi di Tuban, Jawa Timur, Sabtu (8/4) lalu. Senjata api tersebut merupakan produk lokal, diperkirakan harganya Rp 5 juta tiap pucuk.

"Senjata api tersebut patut diduga produk lokal alis rakitan. Kalau yang dari Filipina Selatan itu buatan pabrik," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (10/4).

Boy menyangsikan enam senjata api rakitan itu berasal dari Cipacing, Bandung, atau dari Lampung. Diduga kelompok tersebut membeli di pasar gelap lainnya.

Selain senjata api, polisi menyita peta Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Selain itu ada lima sangkur, lima telepon genggam merek Nokia, tiga buku gambaran umum pendidikan militer, 42 amunisi kaliber 9 mm, 4 amunisi kaliber 0,38 inchi, sekotak peluru, 4 helm, 2 handy talkie, 1 keping CD, sejumlah jaket, masker, rompi, sarung tangan, ransel, dan tas jinjing.

Polisi melansir enam terduga teroris itu merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah Indonesia (JAD) yang telah berafiliasi dengan kelompok radikal internasional ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Mereka melakukan serangan atas perintah pimpinan JAD Nusantara, Zainal Anshori.

Zainal Anshori ditangkap Densus 88 Antiteror Polri di Lamongan, Jatim, sehari sebelumnya, Jumat (7/4). Dalam catatan polisi, Zainal Anshori bersama Zaenal Hasan dan Nurul Hakim pernah bertransaksi mengambil lima pucuk pistol di Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, pada Desember 2015.

Sebelumnya, senjata pabrikan tersebut dibeli Suryadi Ma'sud alias Abu Ridho dari kelompok teroris di Filipina Selatan pimpinan Hapilon Isnilon. Pengambilan senjata api itu atas dasar perintah Aman Abdurrahman.

Dalam baku tembak dengan polisi yang dibantu anggota TNI, enam terduga teroris tewas diterjang peluru. Menjawab kritik mengenai tewasnya semua terduga teroris, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius menyatakan polisi terpaksa menembak untuk bela diri.

"Anggota (polisi) dalam posisi terancam jiwanya. Kalau nggak ditembak, anggota (polisi) yang mati. Kan begitu," ujar Suhardi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin. Ditambahkan, berdasar laporan yang ia terima saat itu tidak ada isyarat mereka bersedia menyerah.

"Mereka bersenjata dan tidak ada indikasi menyerah. Kalau kondisinya semacam itu kan susah juga," kata Suhardi. Oleh karena itu ia minta kejadian itu dipandang secara objektif.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help