TribunJateng/

Mantan Algojo Ini Akui Bunuh 200 Orang Termasuk Dua Adik Kandungnya di Filipina: Duterte Tahu

Lascanas mengatakan pekerjaan mereka adalah membunuh para pelaku kriminal, tanpa pengadilan atau proses yang seharusnya.

Mantan Algojo Ini Akui Bunuh 200 Orang Termasuk Dua Adik Kandungnya di Filipina: Duterte Tahu
AFP/NOEL CELIS
Seorang perempuan memeluk jenazah pacarnya yang tewas dibunuh dalam "perang melawan narkoba" di Manila, Filipina, 22 Juli 2016. 

TRIBUNJATENG.COM, MANILA - Arturo Lascanas adalah seorang polisi senior Filipina dan pembunuh massal yang mengakui tindakannya.

Dia mengklaim telah membunuh lebih dari 200 orang selama kariernya, termasuk membunuh saudara kandungnya.

Lascanas mengaku pernah menjadi anggota "skuat maut" yang bekerja di bawah perintah Rodrigo Duterte, ketika dulu menjabat wali kota Davao, sekarang Presiden Filipina.

Dalam wawancara eksklusif dengan wartawan BBC Indonesia, Rebecca Henschke, Lascanas berbincang mengenai kehidupannya saat menjadi pembunuh.

"Saat saya muda, kami biasa menembak mereka sambil mengendarai sepeda motor. Pembunuhan lainnya saya yang perintahkan," katanya.

"Namun, selama masa muda, kadang kala saya pribadi yang menembak orang-orang yang menjadi target dalam narkoba atau aktivitas kriminal lainnya di Kota Davao pada 1989 hingga 1998."

Dia mengklaim Rodrigo Duterte tahu setiap pembunuhan.

"Kami tidak akan beraksi terhadap target kami tanpa seizin wali kota. Kami selalu memastikan semuanya dengan Wali Kota Rudi (Duterte). Jika tiada kepastian, Anda bisa dapat masalah."

Lascanas mengatakan pekerjaan mereka adalah membunuh para pelaku kriminal, tanpa pengadilan atau proses yang seharusnya.

"Semua bentuk geng kriminal, kejahatan terorganisir, termasuk penculikan, pencurian, pembunuhan, dan seterusnya. Namun, kemudian kami akan membentuk kelompok terpilih dari unit kami, karena komposisi dari unit kami, kalau saya tidak salah, lebih dari 50 personel."

Arturo Lascanas
Arturo Lascanas (BBC INDONESIA)
Halaman
1234
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help