TribunJateng/

CAT Watuputih Rembang Diincar 5 Perusahaan Semen, Jika Itu Terjadi, Selesai Sudah

Dia tidak menjelaskan secara detail kelima perusahaan yang berniat berinvestasi di zona Watuputih tersebut.

CAT Watuputih Rembang Diincar 5 Perusahaan Semen, Jika Itu Terjadi, Selesai Sudah
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Sembilan petani Kartini Kendeng dari kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kembali melakukan aksi protes dengan menggelar aksi menabuh lesung di depan Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/4/2017). Aksi tersebut mereka lakukan sebagai bentuk protes terhadap izin lingkungan baru bagi PT Semen Indonesia yang diteken Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. 

TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Zona kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah menjadi incaran sejumlah perusahaan tambang. Lokasi itu favorit untuk dijadikan bahan baku pabrik semen.

"Ada 5 perusahaan besar menunggu, itu akan masuk. Jika ini masuk di CAT Watuputih semua, selesai sudah," kata Ketua Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) San Afri Awang, di Rembang, Kamis (13/4/2017).

Dia tidak menjelaskan secara detail kelima perusahaan yang berniat berinvestasi di zona Watuputih tersebut.

Menurut dia, pabrik itu tentunya akan membutuhkan luasan lahan untuk kegiatan penambangan. Jika semua itu terjadi, maka batu kapur yang ada di atas cekungan air tanah akan habis. Apalagi saat ini sudah ada ratusan lahan yang sudah dilakukan penambangan dengan 21 izin usaha penambangan.

"Jika galian batu kapur semua di atas CAT habis sudah. Saat ini di CAT Watuputih luasnya 3.200 hektar. Itu sudah diambil penambang," kata dia.

Dengan berkurangnya luasan lahan, ia menyebutkan, daya dukung kawasan akan berkurang, yang pada akibatnya akan menjadikan wilayah menjadi kekeringan.

Dia juga menjelaskan soal kekhawatiran ancaman kekeringan di Desa Tegaldowo.

"Tegaldowo sumber airnya di Gunung Botak. Tapi yang terpengaruh itu wilayah pertanian di wilayah timur ke Jawa timur. Saat ini memang belum terganggu, tapi kalau daya dukung sudah terganggu, pasti akan muncul kekeringan," tambahnya. (KOMPAS.com/Nazar Nurdin)

Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help