TribunJateng/

Sopir BRT Tanggapi Keluhan Ugal-ugalan di Jalan

Usai berdoa, seorang sopir BRT, Sutrisno, lantas menuju ke balik kemudi armadanya. Tak lupa kacamata rayban ia kenakan.

Sopir BRT Tanggapi Keluhan Ugal-ugalan di Jalan
TRIBUNJATENG/HERMAWAN HANDAKA
Pemkot Semarang meluncurkan dua koridor BRT yakni koridor VI jurusan Undip di Tembalang-Unnes di Gunungpati, dan koridor V jurusan Meteseh-PRPP. Peluncuran dipusatkan di kawasan Kampus Undip, Jumat (31/3/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Di tengah banyaknya pandangan negatif terhadap sopir Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang ugal-ugalan di jalanan yang dikeluhkan masyarakat lewat media sosial Twitter lewat tanda tagar #LaporHendi, mereka tetap bekerja melayani penumpang saat semua orang menikmati hari libur, Jumat (14/4).

Mengintip aktivitas mereka pagi kemarin, sejumlah sopir lain beserta petugas tiket dan teknisi tampak berkumpul di pool BRT Koridor II Terminal Terboyo. Mereka menggelar doa bersama sebelum beraktivitas.

Doa yang mereka panjatkan agar diberi kelancaran dan keselamatan selama bekerja. "Mari berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, agar hari ini diberi kelancaran, keselamatan, dan keamanan. Berdoa mulai," ucap seorang teknisi, Abdul Mufid, diikuti rekan-rekannya secara serentak menundukkan kepala. "Selesai," ucap Abdul berselang tak berapa lama.

Usai berdoa, seorang sopir BRT, Sutrisno, lantas menuju ke balik kemudi armadanya. Tak lupa kacamata rayban ia kenakan. Beberapa penumpang telah menunggu di shelter.

Sutrisno lantas memarkirkan BRT di depan shelter. Penumpang lantas masuk bergantian. "Meski sekarang hari libur, ya tetap kerja. Karena sudah tugas saya, ya harus dikerjakan," katanya, mengawali percakapan dengan Tribun Jateng.

Karena tetap bekerja di hari libur, kadang Sutrisno mendapat protes, terutama sang buah hati. "Kadang dapat protes dari anak. Ini kan libur, kok bapak tetap masuk? Namanya tugas melayani masyarakat, ya bagaimana lagi," ujarnya.

Menanggapi pemberitaan sopir BRT ugal-ugalan, Sutrisno menyatakan, hal itu antara lain karena sopir BRT harus bisa mengatur jarak antar-BRT satu dengan yang lain.

"Interval waktu antar-bus sekitar 7-10 menit. Kalau petugas pencatat waktu sudah lapor jarak 16 menit, ya sopir harus menambah kecepatan," jelasnya.

Faktor kemacetan

Menurut dia, kemacetan lalu lintas menjadi satu faktor penghambat laju bus. "Kalau interval waktu terlalu jauh, kasihan penumpang dan calon penumpang yang menunggu di shelter. Saya harus tambah kecepatan," tuturnya.

Hal sama disampaikan Rusmanto. Ia mengaku harus seringkali menyalip kendaraan pribadi saat di jalanan agar interval waktu bus tidak terlalu lama.

"Yang dinamakan sopir ugal-ugalan itu bagaimana? Kadang sopir sudah di jalur semestinya tapi tertutup kendaraan pribadi, apalagi kalau jalannya lambat, kami salip sana salip sini. Kami kejar waktu. Kasihan juga penumpangnya kalau terlalu lama menunggu," ucapnya.

Selain itu, Rusmanto mengungkapkan, kemacetan panjang tak bisa dihindari ketika kawasan menuju Terminal Terboyo terendam rob. "Dari terowongan tol sampai masuk terminal kadang bisa sampai satu jam. Kami harus mempercepat waktu," urainya.

Sopir, kata Rusmanto, bekerja dua hari masuk, satu hari libur. "Kadang masuk tiga hari menggantikan teman. Bus terakhir pukul 18.30, jadi selesai sekitar pukul 20.00. Tapi kalau jalan macet bisa sampai pukul 22.00, dan itu tidak dapat lembur," bebernya. (*)

Penulis: galih permadi
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help