Kebijakan Penetapan HET Daging Diharapkan Berlaku Juga di Pasar Tradisional

Pasalnya, kebijakan penetapan harga eceran tertinggi (HET) daging tak berlaku hingga tataran pasar trandisional. Itu sebabnya, harga daging sapi

Kebijakan Penetapan HET Daging Diharapkan Berlaku Juga di Pasar Tradisional
tribunjateng/dok
ilustrasi daging sapi beku 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA --  Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi menilai, pemerintah tak serius menurunkan harga daging sapi di pasaran. Pasalnya, kebijakan penetapan harga eceran tertinggi (HET) daging tak berlaku hingga tataran pasar trandisional. Itu sebabnya, harga daging sapi masih mencapai Rp 120 ribu per kilogram (kg).

Menurutnya, kebijakan menjual daging sapi beku lebih murah di pasar ritel modern tak relevan menjawab kebutuhan masyarakat yang lebih sering menjangkau pasar tradisional. "Kalau ada daging beku di pasar tradisional seharga Rp 80.000 per kg, itu hanya daging kerbau milik Bulog. Dan itu pun tak merata harganya," ujar Asnawi kepada Kontan, Selasa (18/4).

Menurut Asnawi, pedagang daging sapi di pasar tradisional tidak akan menyesuaikan harga daging sapi, sama seperti harga yang ditetapkan di pasar ritel modern. Walaupun kelak, kebijakan HET ini ditetapkan menyeluruh.

Ia mengungkap, ada sejumlah faktor yang membuat pedagang tak bisa menurunkan harga jual daging sapi. Pertama, soal modal. Menurutnya, untuk bisa menjual daging sapi beku lebih murah, pedagang pasar mesti membeli dalam jumlah besar.

Saat ini, Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) bisa memasok daging beku ke pasar ritel modern dengan harga lebih murah karena harus membeli daging dalam jumlah 20 kontainer sekaligus. "Kemampuan kami maksimal hanya dua kontainer," ujarnya.

Kedua, pedagang tak punya sarana pendukung. Menurut Asnawi, pedagang daging tak memiliki alat pendingin dan mesin pemotong daging otomatis. Maklum, daging beku biasanya dipasok dalam ukuran yang besar sehingga mesti dipotong ulang.

Asnawi pernah mengkalkulasi, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, baik modal dan peralatan, pedagang hanya bisa menjual di harga Rp 84.000 per kg. Namun, nilai ini belum termasuk biaya listrik dan lain-lain. "Kalau pemerintah ingin harga daging beku Rp 80.000 per kg, bisa kerjasama dengan pedagang eceran. Semua fasilitas disediakan pemerintah.

Masih masuk akal

Namun, Ketua Umum Asosiasi Importir Daging Indonesia (Aspidi), Thomas Sembiring, justru menyebut, harga daging sapi beku yang dipatok Rp 80.000 per kg masih masuk akal diterapkan, baik di pasar ritel modern maupun tradisional. Namun, ia mengungkap, harga tersebut tak berlaku untuk bagian daging tertentu yang harganya memang mahal.

"Hanya bagian tertentu, seperti paha depan yang bisa dijual Rp 80.000 per kg. Pasalnya, dari Australia, harganya juga masih terjangkau, sekitar US$ 4-US$ 6 sudah termasuk biaya kirim sampai Tanjung Priok," terangnya.

Thomas mengatakan, saat ini, harga sapi impor di negara asalnya tidak meningkat signifikan. Namun, sampai Indonesia lebih mahal karena dipengaruhi nilai kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Untuk itu, pemerintah harus mampu menjaga stabilitas nilai tukar bila ingin menjaga harga daging. (kontan/elisabeth adventa)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help