WASPADA! Wells Fargo Prediksi Rupiah Melemah Hingga Akhir Tahun

Penguatan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang alias emerging markets yang terjadi beberapa waktu terakhir diprediksi bakal segera berakhir.

WASPADA! Wells Fargo Prediksi Rupiah Melemah Hingga Akhir Tahun
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Warga menujukkan uang NKRI pecahan baru sesuai antre penukaran di mobile konter Bank Indonesia di Blok M, Jakarta Selatan, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia (BI) hari ini meluncurkan 11 uang rupiah Emisi 2016 dengan gambar pahlawan baru. Peluncuran uang rupiah baru ini dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. 

TRIBUNJATENG.COM, NEW YORK -- Penguatan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang alias emerging markets yang terjadi beberapa waktu terakhir diprediksi bakal segera berakhir. Padahal, penguatan kurs negara-negara berkembang selama kuartal I 2017 ini adalah yang terbaik dalam tujuh tahun.

Mengutip Bloomberg, Rabu (19/4), bank AS Wells Fargo baru saja menerbitkan proyeksinya atas nilai tukar mata uang negara-negara berkembang Asia. Wells Fargo tidak melihat adanya prospek penguatan lebih lanjut.

"Kami tidak melihat ada keberlanjutan penguatan selama sisa tahun ini. Peningkatan suku bunga acuan Federal Reserve akan terus berlanjut secara tetap, yang akan memberatkan sebagian besar mata uang asing, termasuk mata uang (negara-negara Asia)," kata Nicholas Bennenbroek, kepala strategi mata uang Wells Fargo.

Nilai tukar won Korea Selatan, rupiah Indonesia, dan baht Thailand akan melemah lebih dari dua persen dalam sembilan bulan ke depan menurut proyeksi Wells Fargo. Adapun mata uang rupee India dan peso Filipina juga akan melemah namun lebih resilien dan optimistis karena kebijakan bank sentral.

"Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap performa nilai tukar mata uang Asia yang solid selama kuartal I 2017 adalah penguatan pasar ekuitas global dan periode korektif pelemahan dollar AS menyusul kenaikan suku bunga acuan pada Desember 2016 dan Maret 2017," ujar Bennenbroek.

Ia menyatakan, sebagian besar mata uang Asia akan melemah terhadap dollar AS meski tetap saja ada yang untung dan buntung. Rupee cenderung akan resisten, sejalan dengan ekonomi India yang solid serta kebijakan moneter yang pruden dan netral. Risiko lainnya, negosiasi perdagangan yang menantang dan hubungan dengan AS.

"Faktor-faktor ini khususnya akan berdampak negatif terhadap won Korea Selatan dan yuan China. Selain itu, ada pula risiko geopolitik terkait Korea Utara, yang akan sangat berdampak pada (mata uang) Korea Selatan," tutur Bennenbroek. (kpc)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help