TribunJateng/

Andi Prediksi Penjualan Rumah Program FLPP Lesu

Sebenarnya, FLPP masih potensial. Tapi, karena dananya dari pemerintah sementara kebijakan pemerintah selalu menyulitkan, tentu itu mempengaruhi

Andi Prediksi Penjualan Rumah Program FLPP Lesu
Dini Suciatiningrum
Perumahan FLPP 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG --  Penjualan rumah bersubsidi di program FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) diprediksi lesu. Kebijakan pemerintah yang dinilai menyulitkan membuat pengembang lebih berhati-hati menjualnya.

"Sebenarnya, FLPP masih potensial. Tapi, karena dananya dari pemerintah sementara kebijakan pemerintah selalu menyulitkan, tentu itu mempengaruhi dan membuat penjualan tak bisa cepat," kata Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah bidang Rumah Susun Sederhana, Andi Kurniawan, Kamis (20/4).

Menurut Andi, kebijakan yang menyulitkan itu di antaranya terkait audit. Hal ini juga berlaku bagi perbankan yang menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) untuk FLPP.

"Perbankan lebih berhati-hati dan selektif. Ada ketakutan dari bank yang menjadi penyalur KPR karena audit yang dilakukan bukan hanya dari OJK (otoritas jasa keuangan) dan BI (Bank Indonesia) tetapi ada dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan dibuat LKPP (Laporan Keuangan Pemerintah Pusat) juga," ujar Andi.

Andi mengatakan, realisasi pembuatan rumah bersubsidi pada 2016 mencapai 14.000 unit. Tahun ini, penjualan rumah bersubsidi ditarget 16.000 unit dengan harga maksimal Rp 130-an juta. "Di awal 2017 ini, sudah terealisasi sekitar 3.000 unit di Semarang dan sekitarnya," tambahnya.

Secara keseluruhan, REI Jateng melihat, bisnis properti Kota Semarang mulai bergeliat. Ini terlihat dari penjualan properti di tiga kali pameran yang digelar REI di awal 2017.

Wakil Ketua REI Jateng Bidang Pameran, Promosi dan Publikasi, Dibya K Hidayat mengatakan, pada pameran pertama dan kedua, jumlah rumah yang terjual masing-masing sekitar 40 unit. Tapi, pada pameran ketiga yang digelar Maret lalu, terjual 54 unit.

"Meski penjualan masih jauh dari target yaitu 70 unit tiap pameran, tapi dapat dilihat adanya pertumbuhan," kata Dibya dalam pameran properti REI Expo keempat di Mal Paragon Semarang, Kamis (20/4).

Menurut Dibya, di pameran sebelumnya, rumah untuk segmen menengah seharga Rp 400 juta-Rp 700 juta paling banyak dicari. Penjualannya mencapai 60 persen. Itu sebabnya, di pameran kali ini, REI menggandeng 15 penyembang dan dua stakeholder yang punya properti untuk kelas menengah atas.

Dibya memperkirakan, tumbuhnya bisnis properti disebabkan bunga KPR pada 2017 yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Juga, tawaran bank lewat skema bunga KPR fix rate yang dinilai konsumen lebih pasti.

"Dengan indikator perekonomian yang membaik ini, maka kami yakin target perjualan tumbuh 20 persen pada 2017 ini akan terkejar. Terlebih dengan didukung suhu politik yang membaik," ucapnya. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help