TribunJateng/

Erlina Menangis Dipelukan Kerabatnya

Menurut Yosep, dia telah mengajukan permohonan untuk tidak ditahan atau dilakukan penahanan kota dengan membayar jaminan uang

Erlina Menangis Dipelukan Kerabatnya
Tribun Jateng/rahdyan trijoko pamungkas
Erlina memeluk kerabat keluarga setelah mendengarkan pembacaan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Isak tangis pecah saat terdakwa pelaku penggelapan uang PT Majati Furinuture Jalan Muktiharjo Raya, Erlina Iswahyuni (44) dipeluk kerabatnya usai sidang. Warga Mranggen, itu menjalani sidang pembacaan surat Dakwaan di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis (20/4).

Surat Dakwaan dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Semarang, Yosy Budi Santoso. JPU menyatakan bahwa Erlina bersalah telah sengaja memiliki barang milik orang lain. Terdakwa bekerja di PT Majati Funiture sejak Bulan Oktober 2015 hingga 30 Juli 2016.

Jaksa mengatakan pada tanggal 17 Juni 2016 terdakwa mengambil kas kantor sebesar Rp 13 juta. Selanjutnya, pada hari Kamis tanggal 23 Juni 2016 terdakwa mengambil uang kembali sebesar Rp 10.500.000 untuk keperluan pribadi terdakwa.

“Untuk menutupi uang yang digunakan, terdakwa membuat laporan keuangan yang disampaikan kepada Joe Revivo selaku Komisari Perusahaan melalui email yang menyatakan bahwa tagihan dari PT Sukses Perkasa (SWI) sebesar Rp 19.453.000, dan Purchase order (pemesanan) senilai Rp 4.238.500,” tuturnya.

Terdakwa melakukan pembayaran atas tagihan tersebut pada bulan Juli 2016 dengan memberikan satu lembar Bank Garansi (BG) tertanggal 01 Agustus 2016 kepada PT Sukses Perkasa (SWI). Setelah dilakukan pembayaran terdakwa mengundurkan diri pada tanggal 12 Juli 2016.

“Selanjutnya sales Manager PT Sukses Perkasa Wiratama Sugito mendatangi kantor PT Majati Funiture untuk menemui terdakwa. Namun karena terdakwa telah mengundurkan diri dari perusahaan, akhirnya sales tersebut menemui manager HRD dan GA yaitu Dyah Rini Harniningsih dan Manager Keuangan IIS Djoeliati untuk menanyakan BG Bank CIMB senilai Rp12.900.000 yang sudah dikliringkan pada tanggal 08 Agustus 2016. Namun BG tersebut ditolak oleh pihak bank karena tidak terdapat dana.

“Kemudian dilakukan pengecekan oleh kedua saksi dan komisaris keuangan diketahui terdakwa menggunakan uang pembayaran tersebut. Akibat pebuatan terdakwa PT Furiniture mengalami kerugian sebesar Rp 23 691.800. Terdakwa dijerat dengan pasal 374, dan 372 KUHP tentang penggelapan,”tuturnya.

Kuasa Hukum terdakwa, Theodorus Yosep Parera mengajukan eksepsi atas gugatan Jaksa Penuntut Umum yang dinilai kurang tepat. Menurut Yosep, dia telah mengajukan permohonan untuk tidak ditahan atau dilakukan penahanan kota dengan membayar jaminan uang dugaan kerugian sebesar Rp 23.500.000. Namun JPU tetap melakukan penahanan terhadap terdakwa dan tidak bersedia menerima uang tersebut.

“Penolakan diduga kuat terdapat unsur hanya ingin melakukan penahanan terhadap terdakwa bukan untuk membuktikan kebenaran materiil dari tuduhan yang dituduhhkan kepada terdakwa,” tuturnya.

Mendengar hal tersebut, Majelis Hakim Siyoto menyatakan penangguhan penahanan tersebut belum bisa diputuskan. Majelis akan membahas dengan majelis anggota untuk menimbang apakah akan dikabulkan atau tidak penangguhan penahanan.

(*)

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help