Juru Parkir Perempuan Ini Peroleh Penghargaan Dari Pemkot Salatiga

Ketujuh perempuan yang memperoleh penghargaan itu di antaranya adalah 2 juru parkir yakni Parti yang telah menjalankan pekerjaannya selama 20 tahun

Juru Parkir Perempuan Ini Peroleh Penghargaan Dari Pemkot Salatiga
dok
Pelaksanaan Upacara Hari Kartini Tingkat Kota Salatiga di Halaman Pemkot Jalan Letjend Sukowati Nomor 51 Kota Salatiga, Jumat (21/4/2017) pagi 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA -- Peringatan Hari Kartini yang ke 138, Pemkot Salatiga menggelar Upacara Hari Kartini Tingkat Kota Salatiga di Halaman Pemkot Jalan Letjend Sukowati Nomor 51 Kota Salatiga, Jumat (21/4/2017).

Upacara tersebut secara khusus seluruhnya diberikan amanah kepada kaum hawa sebagai petugasnya. Mulai dari petugas pengibar bendera, pembaca doa, komandan, hingga inspektur upacara. Dan seluruh peserta, termasuk juga jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kota Salatiga mengenakan kebaya maupun beskap.

Sebelum upacara yang diinspekturi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kota Salatiga Puji Astuti (istri Penjabat Wali Kota Salatiga Achmad Rofai) dan dikomandani Kanit Dikyasa Polres Salatiga Ipda Mia Novrila, secara seremonial dilaksanakan penyerahan penghargaan kepada para perempuan berdedikasi di Kota Salatiga.

"Ada 7 perempuan hebat yang memperoleh penghargaan bertepatan dengan momentum Hari Kartini tahun ini. Mereka memang perempuan hebat menurut kami dan pemerintah. Mereka sangat layak mendapatkannya, meskipun dari sisi nilai mungkin tidak seberapa," kata Kabag Humas Setda Salatiga Sri Satuti kepada Tribun Jateng, Jumat (21/4/2017).

Dia menjabarkan, ketujuh perempuan yang memperoleh penghargaan itu di antaranya adalah 2 juru parkir yakni Parti yang telah menjalankan pekerjaannya selama 20 tahun dan Yuliami sebagai juru parkir selama 15 tahun di Kota Salatiga. Lalu ada buruh gendong yakni Watiyem selama 30 tahun dan Miyem selama 20 tahun.

"Di bidang pendidikan, ada Mike Eka Yulianti yang telah mengabdi sebagai tutor Paket A sejak 2013 lalu, Rofiati sebagai tutor Paket B sejak 2007, dan Nuraeni sebagai tutor Paket C sejak 2005. Selain mereka, Pemkot Saatiga juga menyerahkan bantuan sembako kepada 2 lansia serta bantuan gizi kepada 2 ibu pasca melahirkan, yang membutuhkan," ungkapnya.

Terpisah, dalam sambutan tertulisnya, Puji Astuti berpesan kepada seluruh masyarakat Salatiga apabila peringatan Hari Kartini hendaknya tidak sekadar diidentikkan dengan pemakaian kebaya maupun beskap. Apalagi dijadikan salah kaprah dalam pemaknaannya yang terimagekan hanya sekadar seremonial di tiap tahun.

"Ini semestinya menjadi momentum untuk semakin membangkitkan diri serta meneguhkan kembali makna Hari Kartini sebagai perjuangan emansipasi. Jadi, apa yang menjadi image negatif sudah waktunya untuk diubah. Emansipasi adalah menjadi kata kunci penting yang harus selalu dipegang dan tentunya untuk diperhatikan di Salatiga," ujarnya.

Menurutnya, emansipasi merupakan wujud kebebasan perempuan dalam menentukan secara subjektif dalam mengeksplorasi kemampuan dirinya. Bukan pemikiran yang mengklaim persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Artinya, saat seorang perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dengan kesadarannya yang matang, itu sudah bagian dari emansipasi dalam menemukan jati dirinya.

"Begitu pula sebaliknya, ketika seorang perempuan ingin eksis di publik, itu juga bagian dari emansipasi. Tetapi ketika berkarir, hendaknya tidak melupakan kewajibannya terhadap keluarga, yakni menjadi seorang istri dari suaminya dan menjadi ibu dari para anak-anaknya. Itulah emansipasi dan perlu dipahami dan disadari bersama," ungkap Puji. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help