TribunJateng/

Opini

Kartini, Emansipasi, Inspirasi, dan Spiritualitas

Perempuan saat ini tidak bisa disepelekan lagi. Seiring perkembangan zaman itulah, perempuan Indonesia dapat mensejajarkan diri mereka dengan kaum

Kartini, Emansipasi, Inspirasi, dan Spiritualitas
net
Meme Kartini 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Era reformasi, kaum wanita tidak lagi memosisikan sebagai orang nomor dua (konco wingking). Istilah Jawa dikenal garwa (sigaring nyawa). Kedudukan perempuan dan pria pada masa ini sangat jauh berbeda dari masa lampau. Bahkan tidak jarang kedudukan perempuan justru lebih tinggi daripada pria.

Perempuan saat ini tidak bisa disepelekan lagi. Seiring perkembangan zaman itulah, perempuan Indonesia dapat mensejajarkan diri mereka dengan kaum pria dari berbagai bidang kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan hankam. Di era globalisasi yang serba canggih, gerakan emansipasi telah banyak dilakukan oleh kaum wanita.

Kita mengenal Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita yang inspratif. Kesadaranya akan pentingnya edukasi bagi kaum wanita khususnya memberinya kekuatan untuk bermimpi memiliki pendidikan tinggi. Pada masanya hal aneh seorang perempuan bersekolah. Aturan-aturan Adat yg begitu ketat menjadi belenggu kemerdekaan berpikir, berkarier membuat wanita bagikan burung yang berada dalam sangkar.

Seperti dikatakan Sarah Larasati (2016) Peneliti Center For Gender Studies (CFGS), rata-rata pemikiran Kartini kesetaraan perempuan dengan pria dapat dilihat dari surat-surat Kartini kepada temannya Belanda. Pesan Kartini agar pemerintah memberikan kesempatan untuk perempuan agar bisa bersekolah hingga jenjang yang perguruan tinggi.Era sekarang bukan menyamakan antara perempuan dan pria, tapi bagaimana perempuan mau “melahirkan” anak yang cerdas dan beradab, layak menjadi inspirasi kaumnya.

Banyak pahlawan perempuan lain yang kita kenal. Seperti Cut Nyak Dien dan Cut Mutia, Christina Marta Tiahohu, HR Rasuna Said, Maria Walanda Maramis,Siti Walidah Ahmad Dahlan, Nyi Ageng Serang dan Fatmawati (penjahit bendera Pusaka). Perempuan sebagai pahlawan, merupakan orang yang telah menghasilkan sesuatu (pahala) dari dalam dirinya,yang berkualitas untuk bangsa, negara dan agama. Juga sebagai orang yang berjasa (telah) berkorban tanpa pamrih dan penuh perjuangan.

Kepahlawanan merupakan perjuangan melawan : ketidakadilan, diskriminasi, pembodohan, keterbelakangn, pembantaian atau pemusnahan. Melawan bukan saja dengan cara-cara fisik, berperang, namun juga dapat melalui diplomasi, menginspirasi, memotivasi, mencerahkan, menyadarkan, memberdayakan dan masih banyak yang diuraikan sesuai kebutuhan dan kondisi.

Semangat emansipasi merupakan bentuk kesetaraan jender. Inspirasi, sebagai penyemangat baik wanita sebagai istri (memotivasi suami) dan ibu (mengayomi, melindungi dan mengasuh) anaknya. Sedangkan menjadi spiritualitas, karena di tangan wanitalah para pria takluk. Wanitialah yang merupakan spiritualitas (jiwa) dari pria. Ingat pepatah bahwa wanita dibuat dari tulang rusuk pria.

Era Sekarang

Perempuan inspiratif adalah sebutan yang paling cocok disandang kaum hawa saat ini yang penuh dedikasi. Perempuan masa kini adalah orang yang mandiri, baik secara finansial maupun dalam keperibadian. Serta mereka memiliki kecerdasan dan daya guna. yang artinya, mampu memberikan manfaat, baik itu untuk diri mereka sendiri maupun untuk lingkungannya.

Perempuan yang tangguh tetap tidak melepaskan diri dari jati dirinya dan tetap menjadi seorang ibu. Sebuah tantangan yang akan dihadapi oleh kaum perempuan saat ini dalam ber-emansipasi, yakni harus menjalankan peran ganda tanpa harus meninggalkan kodratnya.

Perempuan sebagai Ibu sekarang di satu sisi dituntut “produktif” dalam karir maupun kehidupan bermasyarakatnya. Dituntut mengabdi pada suami dan menjadi panutan bagi anak-anaknya kelak. Hal itulah yang akan menjadi tantangan terbesar bagi kaum wanita. Namun kenyataanya kaum hawa masa kini sanggup dan mampu. Sebuah perjuangan ganda (ibu dan istri). Bagai telur rajawali yang dierami ayam kampung menetas dan hidup bagai ayam kampung namun keluargaabendanonmenyadarkanya membuat Ibu hidup dalam keabadian karya dan perjuanganya.

Kita memerlukan pemimpin-pemimpin (perempuan) yang mampu menemukan dan menyadarkan bagi anak-anak rajawali yang masih dierami ayam kampung atau masih hidup sebagai ayam kampung yang mengais tanah tanpa mampu terbang mengangkasa.

Saatnya perempuan “bergejolak” bila masih berada atau dipaksakan hidup dalam lumpur kecurangan, kemunafikan, keserakah, kebodohan, diskriminasi punggawa, dan penguasa. Kaum perempuan berani bangkit dari penindasan dan kesewenang-wenangan. Perempuan sekarang tetap pejuang emansipasi, melawan intimidasi, menjadi inspirasi, berjiwa spiritualitas yang mampu mengendalikan dan memperbaiki negeri.

Lenni Yovita SE, MSi

Pengajar FEB Udinus Semarang (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help