TribunJateng/

Liputan Khusus

Jateng Butuh Pemimpin yang Tegas, Lugas, dan Santun

Jateng Butuh Pemimpin yang Tegas, Lugas, dan Santun. Muchammad Yuliyanto, Dosen Komunikasi Politik Undip, Peminat Demokrasi dan Politik Lokal

Jateng Butuh Pemimpin yang Tegas, Lugas, dan Santun
tribunjateng/dok
Muchammad Yuliyanto, Dosen Komunikasi Politik Undip, Peminat Demokrasi dan Politik Lokal 

Muchammad Yuliyanto, Dosen Komunikasi Politik Undip, Peminat Demokrasi dan Politik Lokal

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Kehadiran konsultan politik dalam ajang pemilihan umum (pemilu) sudah berlangsung sejak lama. Bahkan di Amerika Serikat telah mengenal adanya konsultan politik sejak tahun 1970an.

Konsultan politik mulai masuk ke Indonesia sejak ada pemilihan umum dengan sistem yang lebih terbuka dan adil di tahun 1999. Tapi lebih terasa kental saat pemilihan umum 2004 dan pemilihan presiden atau kepala daerah secara langsung.

Dari filosofinya, asal-muasal munculnya konsultan politik berawal dari rasa kepedulian atau keinginan orang-orang akademik kampus terlibat dalam persoalan politik. Kemudian mereka mencoba menawarkan pandangan pendekatan secara akademik dalam kontestasi politik, seperti pemilu.

Sehingga alat yang sering digunakan konsultan politik yakni dengan melalui pendekatan akademik, mulai dari survei, komunikasi, hingga manajemen kampanye. Beberapa di antaranya adalah memberikan konsultasi kepada pasangan calon dalam pilkada, pileg, atau pilpres.

Konsultan politik dalam pemilu dan demokrasi memiliki beberapa tugas. Antara lain menjadi mediator untuk menghubungkan ekspektasi publik dengan pasangan calon. Cara menghubungkannya melalui hasil survei yang dilakukan secara akademik.

Adapun tujuan dari survei adalah untuk mencari tahu aspirasi masyarakat supaya selanjutnya ditangkap oleh pasangan calon dalam merealisasikan visi misi atau program kerja.

Kemudian yang kedua, kehadiran konsultan politik ini bertujuan untuk mendekatkan psikologis/emosi publik dengan pasangan calon. Hal ini dilihat dari respons terhadap figur itu, untuk kemudian nanti dipakai oleh konsultan politik sebagai dasar mendekati secara psikologis antara poltisi dengan konstituen berdasarkan survei akademik.

Konsultan politik memiliki tingkatan, ada yang hanya menangani dinamika politik di tingkat lokal, seperti pemilu legislatif tingkat kabupaten/kota maupun pimilukada. Ada juga yang tingkatnya satu provinsi serta skala nasional.

Dalam memilih konsultan politik jelang pemilu, pasangan calon harus mempertimbangkan berbagai hal, mulai dari jam terbang, pengalaman, kualitas kerja, akurasi, objektifitas serta hasil positif yang telah dicapai selama berkarir menjadi konsultan politik.

Menurut saya, komunikasi politik di tanah air haruslah dicover dalam konteks eufemistik, halus, santun, damai dan tenang. Mengkritik tetapi dengan cara yang tidak vulgar.

Selain itu, konsultan poltik juga harus memiliki keahlian dalam bernegosiasi/kompromi atau mengakomodasi berbagai kepentingan guna membangun konsensus atau kesepakatan bersama.
Model komunikasi politik di Jawa Tengah relatif landai-landai saja. Karena Jateng cenderung memilki filosofi yang sangat kuat/dominan yaitu gaya kejawaan yang dikenal harmonis, tenang, dan damai.

Sehingga geliat politik di provinsi ini tidak bisa menjadi gaduh atau memanas, kemungkinannya itu kecil. Kecuali ada figur fenomenal atau kontroversial yang masuk, misal kemunculan Ridwan Kamil atau Tri Rismaharini sebagai kontestan politik di Pilgub Jateng.

Berdasarkan hasil penelitian, figur kepala daerah dambaan masyarakat Jawa Tengah saat ini yaitu menginginkan pemimpin yang punya kepribadian tegas, lugas, dan santun.

Sejatinya konsultan politik hanya boleh menangani satu klien dalam sebuah ajang kompetisi pemilu. Namun pasangan calon boleh memiliki lebih dari dua konsultan politk sebagai bahan perbandingan dan semakin meyakinkan langkah yang diambil telah benar. (tribunjateng/cetak/lipsus)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help