TribunJateng/

Ini Alasan Mengapa Pembayaran Ganti Rugi Jalan Tol Desa Wungurejo dan Tejorejo Paling Rendah

"Kami merasa di dhalimi dengan harga ganti kerugian Rp 220 ribu per meter persegi, tidak manusiawi, " ungkapnya

Ini Alasan Mengapa Pembayaran Ganti Rugi Jalan Tol Desa Wungurejo dan Tejorejo Paling Rendah
TRIBUNJATENG/DINI
Nur Hayati Pasang Badan Mengadang Alat Berat Eksekusi Lahan untuk Jalan Tol proyek Semarang-Batang di Ringinarum kabupaten Kendal, Selasa (9/5/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dini suciatiningrum

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan jalan tol Batang-Semarang Tendi Hardiyanto menjelaskan, nilai pembayaran lahan proyek jalan tol di dua desa tersebut yakni Desa Tejorejo dan Wungurejo, Kecamatan Ringinarum paling rendah dibanding lain sebab bidang tersebut jadi lahan yang kali pertama dilakukan pengukuran.

Tendy memaparkan lahan di Desa Wungurejo dan Tejorejo dilakukan penaksiran pada 2015 sehingga harga yang ditetapkan sesuai harga saat itu, sedangkan harga tanah di desa yang bersebelahan dengan dua desa tersebut yakni Desa Rowoblanten yang nilai lebih tinggi dilakukan penafsiran Desember 2016.

"Begitu data lengkap saat itu kami segera lakukan verifikasi dan memproses, jadi sesuai harga yang ditetapkan apprasial di tahun 2015, " tegasnya

Tendy juga mengungkapkan sebelum proses eksekusi, pembayaran uang dua desa tersebut sudah dititipkan ke Pengadilan Negeri Kendal.

Tendy menerangkan dari 27 desa Kabupaten Kendal ada 13 desa yang masih proses pembebasan.

"Kami targetkan akhir bulan ini proses pemberkasan selesai, " ucapnya.

Koordinator warga Desa Wungurejo yang terdampak proyek jalan tol, Samsudin, menegaskan warga tetap menolak pembayaran ganti rugi meski proses eksekusi lahan telah dilakukan.

Samsudin mengatakan sebenarnya mendukung proyek pembangunan jalan tol Batang Semarang namun warga hanya minta harga ganti lahan yang wajar.

"Hanya dua desa ini ( Desa Wungurejo dan Tejorejo) yang nilai ganti rendah dibanding desa lain yang tanahnya dihargai Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu, kami merasa di dhalimi dengan harga ganti kerugian Rp 220 ribu per meter persegi, tidak manusiawi, " ungkapnya. (*)

Penulis: dini
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help