TribunJateng/

Segalanya bisa saja terjadi, Tapi kita janganlah berpisah,. . . Repertoar Teater Puisi

Cuplikan bait puisi yang dilantunkan Slamet Priyatin dan Any Faiqoh menggema di ruang ex Kawedanan Kaliwungu, Kendal, Minggu (14/05/2017) malam.

Segalanya bisa saja terjadi, Tapi kita janganlah berpisah,. . . Repertoar Teater Puisi
TRIBUNJATENG/DINI
Cuplikan bait puisi yang dilantunkan Slamet Priyatin dan Any Faiqoh menggema di ruang ex Kawedanan Kaliwungu, Kendal, Minggu (14/05/2017) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dini suciatiningrum

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Segalanya bisa saja terjadi, Tapi kita janganlah berpisah, Sebab waktu tidak akan pernah berlalu, Dan selalu menyertaimu, Bukankah detak jam selalu ada... Kau !

Cuplikan bait puisi yang dilantunkan Slamet Priyatin dan Any Faiqoh menggema di ruang ex Kawedanan Kaliwungu, Kendal, Minggu (14/05/2017) malam.

Selama satu jam, puisi yang dikemas dalam pertunjukan repertoar teater tersebut membius penonton yang hadir.

Repertoar teater puisi yang mengangkat kisah kesetiaan karya Slamet Priyatin merupakan ungkapan hati dari laki-laki yang akrab disapa Priyo pada orangtuanya.

Sutradara Repertoar Teater Puisi Kesetiaan, Mahmud Elqadrie mengungkapkan, kesetiaan yang tertuang dalam puisi tetsebut bukan sekedar hubungan antara wanita dan laki-laki yang sekedar pacaran namun lebih ke spritual.

"Kesetiaan itu sebuah sikap tidak hanya emosi," ujarnya.

Mahmud mengakui mengemas puisi dalam suatu pementasan teater memberikan tantangan sendiri, sebab bisa memunculkan multitafsir.

Menurut Mahmud puisi karya Priyo merupakan puisi yang jujur lahir dalam hati. Jika malu akan dikatakan malu, apa adanya.

Cuplikan bait puisi yang dilantunkan Slamet Priyatin dan Any Faiqoh menggema di ruang ex Kawedanan Kaliwungu, Kendal, Minggu (14/05/2017) malam.
Cuplikan bait puisi yang dilantunkan Slamet Priyatin dan Any Faiqoh menggema di ruang ex Kawedanan Kaliwungu, Kendal, Minggu (14/05/2017) malam. (TRIBUNJATENG/DINI)

Selain itu, pementasan Repertoar Teater Puisi tersebut bisa memberikan pencerahan serta rasa damai di tengah situasi politik yang memanas.

"Kami ingin menyapa Indonesia dengan seni, di tengah situasi politik yang tidak sehat, seni harus muncul sebagai penyeimbang," ungkapnya.

Penulis sekaligus pemain Repertoar Teater Puisi, Priyo menjelaskan, puisi yang ditulis pada 2008 terinspirasi dari kesetiaan sang ibu pada ayahnya yang meninggal 1971.

"Hati ibu saya tidak pernah berpaling meski bertahun-tahun ditinggal bapak, sampai dia meninggal pada tahun 1999, puisi ini merupakan puncak kerinduan saya pada Ibu saat itu, " paparnya.

Dalam puisi tersebut, Priyo ingin menyampaikan bahwa kesetiaan itu ada dan dibuktikan saat pasangan kita meninggal duniam (*)

Penulis: dini
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help