TribunJateng/

OPINI

Belajar Toleransi dari Tholene de Britto

Belajar Toleransi dari Tholene de Britto. Opini ditulis oleh M Basuki Sugita, Pendidik tinggal di Desa Kaliputu Kudus

Belajar Toleransi dari Tholene de Britto
tribunjateng/bram
Opini ditulis oleh M Basuki Sugita, Pendidik tinggal di Desa Kaliputu Kudus 

Opini ditulis oleh M Basuki Sugita, Pendidik tinggal di Desa Kaliputu Kudus

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Dalam setahun terakhir marak ujaran kebencian di media sosial serta menguatnya sikap radikalisme, dan intoleransi yang berpotensi memecah belah kerukunan kehidupan berbangsa dan bernegara di republik kita tercinta.

Saling hujat dengan kata kurang pantas serta penyebaran berita palsu (hoax) tanpa tedeng aling-aling dihembuskan demi kepentingan pendek. Vonis 2 tahun penjara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok atas kasus penodaan agama, dikhawatirkan mempertajam sentimen SARA.

Terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat menjalani sidang vonis perkara penistaan agama yang di gelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di aula Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (9/5). Dalam sidang tersebut majelis hakim membacakan pertimbangan sebelum menjatuhkan vonis.
Terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat menjalani sidang vonis perkara penistaan agama yang di gelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di aula Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (9/5). Dalam sidang tersebut majelis hakim membacakan pertimbangan sebelum menjatuhkan vonis. (TRIBUNNEWS.COM/KMPHOTO)

Di tengah pro-kontra vonis Ahok, dunia maya dikejutkan film pendek berdurasi 14 menit berjudul “Jawa Cina de Britto”. Film itu bertutur saling ejek menyinggung SARA yang sudah berjalan puluhan tahun. Uniknya gesekan SARA diterima semua pihak tanpa menyinggung perasaan siswa SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

Film “Jawa Cina de Britto” diproduksi “tholene de Britto” tahun 2010 termasuk Wregas Bhanuteja. Wregas dikenal sebagai sutradara muda cemerlang, tahun lalu lewat karya bertajuk Prenjak, memenangkan kompetisi film pendek di Semaine de la Critique ke 55 di Nantes, Perancis.

Bagaimana metode pendidikan di SMA de Britto dilakukan, sehingga ujaran seperti Cino ra duwe toko, Jowo ra duwe sawah tidak lebih dari guyonan mataraman? Bagaimana sikap pelaku pendidikan di sekolah tersebut dalam merajut kebhinekaan?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) rajut diartikan sebagai jaring-jaring atau jala, siratan benang yang berupa jaring untuk pundi-pundi, penutup sanggul atau bahan pakaian yang disirat dengan tangan atau mesin jahit. Sementara merajut diartikan menyirat jaring-jaring, membuat rajut, atau memasang rajut.

Merajut kebhinekaan adalah cara pandang pelaku pendidikan melihat diri para siswa sebagai kesatuan utuh seorang anak manusia tanpa melihat segala bentuk latar belakang mereka dari sisi sosial, budaya, politik, agama, dan ras. Para guru punya pandangan sama, bahwa anak-anakyang mereka ajar di dalam kelas adalah anak-anak Tuhan.

Ibarat membuat rajut, siswa adalah helaian benang-benang yang berbeda satu dengan yang lain. Benang itu bisa beragam corak warna seperti merah, ungu, hitam, putih, biru, coklat, atau mungkin sudah kusam sehingga tidak jelas warnanya.Tugas guru adalah merangkai siratan benang-benang yang beraneka warna menjadi sebuah jalinan ikatan kuat. Benang yang satu saling bertautan dengan warna lain. Benang-benang itu saling membutuhkan satu sama lain, saling kerja sama, untuk membentuk kaitan kuat sebuah rajut.

Pada dasarnya sekolah tidak boleh menolak murid yang berwarna-warni sepanjang telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan,terkait tingkat kualitas intelektualitas siswa bukan “rupa dan warna” murid itu sendiri.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help