TribunJateng/

Taruna Akpol Terbunuh

Ini Hasil Autopsi Mohammad Adam Taruna Akpol yang Tewas di Kampus

Ini Hasil Autopsi Mohammad Adam Taruna Akpol yang Tewas di Gudang Kampus. Mohammad Adam, meninggal di RS Akpol, Kamis (18/5) pagi

Ini Hasil Autopsi Mohammad Adam Taruna Akpol yang Tewas di Kampus
TRIBUNJATENG/dok
FOTO DOKUMEN Ratusan taruna Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 50, tahun 2016 digembleng di Pantai Bandengan Jepara, Selasa (3/5/2016). Mereka diberikan pelatihan khusus SAR. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam, meninggal di RS Akpol, Kamis (18/5) pagi. Korban diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya. Hasil visum menunjukkan, terdapat lebam di dada taruna tingkat dua itu.

"Korban meninggal saat tiba di Rumah Sakit Akpol. Saat ini masih proses autopsi di RS Bhayangkara Semarang," kata Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono, dalam konferensi pers di Mapolda Jateng, Kamis sore.

Condro menduga, taruna kelahiran Padang 20 Juni 1996 itu meninggal usai menjadi korban pemukulan. Saat ini, polisi masih memeriksa 21 taruna berkait dengan insiden tersebut. "Hasilnya akan kami sampaikan besok (Jumat hari ini--Red)," kata Condro.

Dia menuturkan, korban sempat menghadiri apel, pada Rabu (17/5) malam. "Seusai apel, kami belum tahu ada kegiatan lain atau tidak. Itu yang masih dalami," katanya.

Brigdatar Adam masuk dalam satuan enam, pengiriman dari Polda Maluku. Alumnus SMA Negeri 29 Jakarta itu tercatat sebagai warga Jalan Penghulu, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Adam merupakan putra pasangan Asiandri Umar dan Adria Nova.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Djarod Padakova menambahkan, ada dua barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian, yakni berupa kopel atau sabuk dan tongkat plastik sepanjang 20 sentimeter. Kedua benda itu ditemukan di lokasi kejadian, yaitu flat A, yang merupakan ruangan kosong.

"Di flat A, ruangan kosong yang disebut gudang, berkumpulnya di situ. Kopel milik siapa belum tahu," kata Djarod.

Dia menambahkan, peristiwa itu terjadi ketika 22 taruna tingkat II yang tergabung dalam Korps HIT (Himpunan Indonesia Timur) diminta menghadap para seniornya. Alasan pemanggilan karena korban dan beberapa rekannya dianggap melakukan kesalahan.

"Korban merasa kesakitan dan kejang, kemudian Taruna Tingkat III berupaya menyadarkan dengan cara CPR (cardiopulmonary resuscitation atau resusitasi jantung paru--Red) dan membasahi mukanya dengan air," katanya.

Setelah pingsan di gudang yang menjadi tempat kejadian perkara, korban dibawa ke RS Akpol namun, dia mengembuskan napas terakhir di sana, pada Kamis dini hari pukul 02.45.

Djarod menambahkan, hasil autopsi terhadap korban diketahui, Adam itu tewas dengan luka di kedua paru-parunya. Autopsi dilakukan setelah ada persetujuan keluarga, yakni ibu dan kakak korban, yang datang ke RS Bhayangkara.

"Hasil autopsi sudah keluar. Korban luka di paru-paru kanan dan kiri karena tekanan kuat. Korban pingsan dan kekurangan oksigen," tegas Djarod.

Dari luka luar, pada tubuh korban terdapat memar di dada tengah, kiri, dan kanan. Sementara menurut hasil autopsi tim medis, korban tewas akibat luka di kedua paru-parunya sehingga mengalami gagal napas dan kekurangan oksigen.

Pada Kamis malam, jenazah korban diterbangkan ke Jakarta dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. "Naik pesawat. Setahu saya, pihak keluarga yang datang ke Semarang itu ibunya," kata Djarod. (tribunjateng/cetak/dna/kps/dtc)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help