TribunJateng/

Tewasnya Taruna Akpol, IPW: Itu Akibat Pelaku Bangga yang Berlebihan Sebagai Senior

Ketua IPW Jateng, Untung Budiarso mengatakan, kekerasan pada dunia pendidikan khususnya pendidikan taruna sangat memprihatinkan.

Tewasnya Taruna Akpol, IPW:  Itu Akibat Pelaku Bangga yang Berlebihan Sebagai Senior
istimewa
Untung Budiarso

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Indonesia Police Watch (IPW) menyoroti tewasnya Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam, yang diduga akibat kekerasan oleh sejumlah oknum seniornya.

Ketua IPW Jateng, Untung Budiarso mengatakan, kekerasan pada dunia pendidikan khususnya pendidikan taruna sangat memprihatinkan. "Perlu ada penanganan khusus sehingga tidak terulang dan terulang lagi," kata Untung lewat rilis yang dikirimkan kepada Tribun Jateng, Jumat (19/5/2017).

Sebelumnya diberitakan, Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam, meninggal di RS Akpol, Kamis (18/5) pagi. Korban diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya. Hasil visum menunjukkan, terdapat lebam di dada taruna tingkat dua itu. Taruna kelahiran Padang 20 Juni 1996 itu meninggal usai menjadi korban pemukulan. Saat ini, polisi masih memeriksa 21 taruna berkait dengan insiden tersebut.

Untung mengungkapkan, ada sejumlah dugaan penganiayaan di pendidikan taruna di Indonesia yang mengakibatkan korban meninggal dunia yang diduga dilakukan oleh kakak seniornya. Berikut catatannya:

1. 28 Maret 2006, Akpol Semarang. Korban bernama Hendra Saputra (21), pelaku penganiayaan diduga enam taruna senior. Korban dianiaya karena dianggap bersalah lantaran tak melaporkan libur studi.

2. 16 April 2007, IPDN (sebelumnya STPDN) Jatinangor Sumedang. Korban bernama Cliff Muntu Madya (19), tewas karena dianiaya tujuh taruna senior. Korban tewas akibat tindak kekerasan.

3. 26 April 2014.  STIP Jakarta, korban Dimas Dikita Handoko (19), taruna tingkat I, korban meninggal dianiaya karena dianggap tidak hormat kepada senior.

4. 6 April 2015, STIP Jakarta, korban Daniel Roberto Tampubolon (taruna tingkat I), tewas dianiaya tujuh senior karena dianggap salah menyajikan menu makan bersama.

5. 10 januari 2017, STIP Jakarta, korban Amirulloh Adityas Putra (taruna tingkat I), tewas setelah diplonco dan mendapat sejumlah kekerasan fisik oleh  seniornya.

6.  31 Maret 2017, SMA Taruna Magelang, korban Kresna Wahyu Nurachma (15), tewas dibunuh dengan pisau saat korban sedang tidur, AMR sakit hati karena kepergok korban saat tengah mencuri.

"Budaya senioritas dalam dunia taruna harus diarahkan dengan tepat sehingga tidak terjadi tindakan negatif dan semena-mena seperti fakta yang terjadi saat ini. Ini bukan lagi menjadi PR bagi lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, akan tetapi menjadi PR bersama kelembagaan negara yang menyelenggarakan pendidikan maupun lembaga pemerhati pendidikan," tambah Untung yang juga sebagai Direktur Lembaga Kajian Maritim (LKM).

Untung menjelaskan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Kecerdasaan tidaklah terletak pada aspek pengetahuan dan ketrampilan saja melainkan ada kecerdasan yang paling fundamental yaitu kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial.

Menurut Untung, LKM (Lembaga Kajian Maritim) mendorong supaya dalam penanganan regulasi pendidikan taruna tetap mengacu pada semangat subtansi UU Pendidikan yaitu membangun jiwa dari perwujudan spiritual dan sikap juga membangun raga, perwujudan dari pengetahuan dan ketrampilan.

"Jika ini tidak ditangani secara serius, jelas kehancuran bangsa Indonesia sudah berada di depan mata, karena dunia pendidikan yang harusnya menjadi pencetak generasi penerus bangsa malah menjadi pembunuh generasi penerus bangsa. Salah siapakah? Salah kita semua yang tidak mau ikut ambil bagian dalam mengawasi regulasi pendidikan taruna, lembaga independen profesional dalam bidangnya (bukan seperti lembaga komite) sudah saatnya perlu menjadi bagian dari setiap penyelenggaraan pendidikan sebagai control atas apa yang selama ini terjadi," terang Untung. (*)

Penulis: a prianggoro
Editor: a prianggoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help