TribunJateng/

Forum Mahasiswa

Merefleksi Keindonesiaan Kita

Kerawanan akan perpecahan masih menjadi momok bagi Indonesia. Bahkan baru-baru ini banyak media maupun wacana santer

Merefleksi Keindonesiaan Kita
Net
Gambar Burung Garuda Pancasila

TRIBUNJATENG.COM -- Kerawanan akan perpecahan masih menjadi momok bagi Indonesia. Bahkan baru-baru ini banyak media maupun wacana santer membicarakan persoalan satu ini. Disintegrasi dan separatisme menjadi persoalan urgen bagi keamanan nasional.

Tentu masalah ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, jika tidak ingin Indonesia mengalami chaos. Sebagai warga negara yang sadar, kita harus benar-benar belajar dari peristiwa kelam yang pernah terjadi.

Terlebih di bulan Mei ini, tepatnya setiap tanggal 20, kita selalu memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Ini bisa dijadikan momentum untuk menggali kembali nilai-nilai perjuangan yang (mungkin) terlupa. Seperti nilai dan semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan, serta kesadaran berbangsa dan bernegara.

Menghadapi disintegrasi dan separatisme, perlulah kita berefleksi diri. Kiranya apa yang menjadi akar masalah. Kita bisa memulai dari pribadi masing-masing. Menyelami keindonesiaan kita secara fair, terbuka dan kritis sebagai bangsa Indonesia.

Defisit Pengetahuan Kesejarahan

Bisa jadi disintegrasi dan separatisme yang sedang berkembang salah satunya disebabkan defisit pengetahuan kesejarahan NKRI.

Defisit yang dimaksud ialah kurangnya pengetahuan warga negara akan sejarah negaranya. Sehingga dalam kehidupannya sebagai warga negara, ia tidak punya motivasi dan tujuan bermakna. Akibatnya, segala persoalan yang mendera negaranya tidak disikapi sebagaimana semestinya, bahkan dianggap angin lalu.

Pengetahuan kesejarahan begitu penting bagi kelangsungan hidup suatu negara. Sejarah perjalanan Indonesia menjadi suatu negara merdeka tidak boleh terputus dari alam berfikir warga negara. Begitu banyak pengorbanan yang sudah ditempuh demi kemerdekaan. Tetes darah, air mata, dan keringat yang mengucur dari para pejuang kemerdekaan tidak boleh terbuang cuma-cuma.

Pengetahuan kesejarahan NKRI harus terus disambung juangkan. Paling tidak itu sebagai modal awal bagi setiap warga negara untuk konsisten membangun bangsa dan menjaga NKRI. Pengetahuan tersebut juga sebagai tali yang akan selalu mengikat diri dan jiwa warga negara. Di sinilah kita perlu merenungimaksud perkataan Mahbub Djunaidibahwa,“setolol-tololnya orang adalah yang tak tahu apa itu sejarah. Dan sehina-hinanya orang ialah yang memalsukan sejarah.”

Krisis Cinta dan Kepercayaan

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help