TribunJateng/

FOCUS

Lintasan yang Melupakan

Si pembuat lupa bahwa membuka perlintasan baru ilegal adalah membuka peluang terjadinya kecelakaan

Lintasan yang Melupakan
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
ISWIDODO wartawan Tribunjateng.com 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tabrakan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan Toyota Avanza di Dusun Jetis, Desa Katong, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Sabtu (20/5/2017) menghentak pembaca.

Bukan hanya karena menewaskan empat orang penumpang Avanza, namun masyarakat bertanya kenapa hal itu terjadi lagi. Padahal perlintasan kereta api tanpa palang pintu sudah sering memakan korban jiwa dan materi, tetapi belum ada langkah signifikan untuk mencari solusi.

KA Argo Bromo Anggrek dari Surabaya menuju Jakarta itu melaju dengan kecepatan kira-kira 90 kilometer per jam. Sementara ada iring-iringan empat mobil dari Semarang membawa rombongan untuk menghadiri hajatan pernikahan di Toroh Kabupaten Grobogan melintasi rel.

Sebuah mobil Avanza Silver berpelat B 1937 UZQ tertemper KA Argo Bromo Anggrek di Kabupaten Groboga, Sabtu (20/5/2017) pukul 10.35.Â
Sebuah mobil Avanza Silver berpelat B 1937 UZQ tertemper KA Argo Bromo Anggrek di Kabupaten Groboga, Sabtu (20/5/2017) pukul 10.35. (Facebook)

Tiga mobil lolos melintasi rel kereta api, sedangkan satu mobil yaitu posisi paling belakang tersambar dan terseret ratusan meter, lalu hangus terbakar di Stasiun Sedadi, Penawangan, Grobogan tempat kereta api berhenti. Avanza hangus terbakar dan empat orang meninggal dunia.

Perlintasan kereta api di lokasi itu tidak ada palang pintu. Tentu iring-iringan mobil hajatan mengikuti kendaraan di depannya yang telah terlebih dulu bisa melintasi rel dengan selamat. Tak diduga, ada kereta api dengan kecepatan tinggi melintas di rel tersebut. Tabrakan tak bisa dihindari.

Perlu disadari, ada lebih 51 titik lokasi rel perlintasan kereta api di Grobogan. Dari jumlah itu 17 titik lokasi rel perlintasan kereta api tanpa paling pintu. Sedangkan di Jawa Tengah, ada 535 perlintasan kereta api.

Terdapat 106 perlintasan yang dijaga oleh petugas, sementara 429 perlintasan lainnya tidak dijaga. Menakutkan memang. Dan jumlah perlintasan kereta api tanpa penjaga atau tidak dilengkapi palang pintu pasti bertambah akibat dari ulah warga yang membuat perlintasan liar.

Kalau sudah begini, berarti menjadi tanggungjawab PT KAI dan pemerintah daerah untuk menertibkan perlintasan kereta api tanpa palang pintu. Hal inilah menjadi pemicu utama terjadinya kecelakaan. Pemda berkewajiban memasang palang pintu pada perlintasan kereta api supaya pengendara bisa tertib tidak menerobos rel.

Di sisi lain pemerintah daerah dan PT KAI harus tegas menutup secara rapat, perlintasan-perlintasan kereta api yang liar atau tanpa ada penjaga dan palang pintunya. Meskipun masyarakat mengeluhkan harus memutar dan menempuh jarak lebih jauh, pemda harus tegas dan keukeuh mencegah munculnya lagi perlintasan liar baru. Semua demi keselamatan masyarakat.

Sebentar lagi akan Ramadan dan jelang Lebaran terdapat ratusan ribu bahkan jutaan pemudik pulang kampung di Jawa Tengah. Kerawanan kecelakaan akibat perlintasan tanpa palang pintu tentu meningkat.

Perlintasan itu sering melupakan. Si pembuat lupa bahwa membuka perlintasan baru ilegal adalah membuka peluang terjadinya kecelakaan. Demikian juga pengendara roda dua atau roda empat, sering lupa bahwa ada kereta api yang bisa saja datang tiba-tiba dengan kecepatan tinggi tanpa tanda-tanda bunyi sirine..

Kelupaan yang berbahaya adalah ketika pengendara tidak berhenti sejenak untuk melihat ke kanan dan kiri memastikan bahwa tak ada kereta api akan melintas. Dan raja tega adalah pemda yang melupakan dan membiarkan kecelakaan terus terjadi akibat dari perlintasan tanpa palang pintu. (tribunjateng/cetak/iswidodo)

Penulis: iswidodo
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help