TribunJateng/
Home »

Jawa

TERGIUR Iming-iming Akhirnya Sahrul Kecewa Terima Honor dari ISIS Rp 600 Ribu

Terduga teroris, Sahrul Munif, mengaku tergiur janji manis berupa honor hingga jutaan rupiah, jika dia bergabung dengan ISIS.

TERGIUR Iming-iming Akhirnya Sahrul Kecewa Terima Honor dari ISIS Rp 600 Ribu
tribunjateng/hermawan handaka
SIMULASI - Batalyon Yonif Raider 400/BR menggelar simulasi penyergapan teroris dan pembebasan sandera di kawasan Tugu Muda Semarang, Jumat 16 Juni 2017. 

TRIBUNJATENG.COM, MALANG - Terduga teroris, Sahrul Munif, mengaku tergiur janji manis berupa honor hingga jutaan rupiah, jika dia bergabung dengan ISIS. Sahrul pun berangkat ke Suriah dan mengangkat senjata bersama ISIS. Namun, Sahrul akhirnya kecewa karena honornya hanya sekitar Rp 600 ribu per bulan.

"Dia kecewa karena ternyata hanya dapat Rp 600 ribu per bulan," ungkap Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, seusai memeriksa rumah terduga teroris Sahrul, Senin (19/6).

Setelah bergabung ISIS, Sahrul mengajak warga Negara Indonesia untuk mengikuti jejaknya. Ajakan itu direkam dalam bentuk video yang kemudian diunggah di Youtube. "Dia adalah yang ada di dalam video itu," kata Yade seperti dikutip dari Surya (Tribun Network),

Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap Sahrul di Jalan Wijaya 11A, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Senin (19/6) sekitar pukul 8.30. Pada waktu yang berdekatan, Densus 88 juga menangkap terduga teroris Agus Tri Mulyono, di rumah kontrakan di Tanah Merah II, Tanah Kedinding, Kota Surabaya.

Sahrul ditangkap ketika sedang berjalan seorang diri dan membawa tas berisi buku. Sahrul tidak memberi perlawanan dan menurut ketika dibawa ke kantor polisi. "Dia ditangkap Senin pagi pukul delapan," kata Yade.

Sahrul yang berangkat ke Suriah pada 2013, akhirnya hanya bertahan setahun. Tahun 2014 Sahrul pulang. Polisi yang mengetahui kepulangan Sahrul dan Agus, segera mengawasi keduanya.

Agus Tri Mulyono ditangkap seusai salat zuhur di Masjid Umar, tak jauh dari rumah kontrakannya, Senin. Tuduhan polisi bahwa Agus pernah ke Suriah dan bergabung ISIS dibantah oleh, Benti Alfiyah, istri Agus.

"Suami saya ditangkap setelah salat zuhur oleh orang yang saya tidak kenal. Setelah itu dibawa entah ke mana," ungkap Alfiyah.

Alfiyah tidak percaya pernyataan polisi bahwa Agus terlibat terorisme. Ia tahu persis aktivitas suaminya yang sudah hidup berumah tangga dengannya selama 12 tahun. "Suami saya bukan teroris, saya tidak percaya. Itu tuduhan mengada‑ada. Wong paspor saja tidak pernah punya, kok bisa ke luar negeri," imbuhnya.

Alfiah mengaku, tidak bisa berbuat banyak saat petugas menggeledah rumah kontrakannya. "Kepada polisi, saya mempersilakan menggeledah. Tadi polisi membawa HP, tapi itu HP sudah rusak," katanya.

Selain ponsel Alfiyah mengakui polisi juga mengamankan beberapa buku majalah Islam. Buku tersebut dibaca suaminya sebagai penambah wawasan Islam.

Alfiyah menyatakan, suaminya adalah penjual sayur keliling. Dia juga nyambi sebagai kurir di salah satu kantor ekspedisi di Surabaya Utara. "Saya dan suami sudah kontrak di sini (Tanah Merah II) selama tiga tahun," kata Alfiah.

Ibu empat anak ini menuturkan, ia dan suami pernah tinggal berpindah‑pindah. Selain di Surabaya, mereka pernah tinggal di Malang dan Nganjuk.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangare menjelaskan, Agus dan Sahrul bergabung ke ISIS lewat jaringan Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal, petinggi ISIS asal Indonesia. Abu Jandal sendiri dikabarkan sudah tewas di Mosul, Irak sekitar satu tahun yang lalu.

Sahrul dan Agus pernah berlatih militer bersama ISIS dan video latihannya tersebar di Youtube. "Di video Youtube, Sahrul bawa senjata jenis AK. Kemudian Pak Agus yang ditangkap di Surabaya juga dari jaringannya sama. Kami masih melakukan penelitian lebih mendalam," papar Barung. (tribunjateng/cetak/Tribun Network/Surya)

Editor: iswidodo
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help