TribunJateng/

Lima Mahasiswa Undip Beri Edukasi Seks kepada Murid SDN Tambakrejo 3 Semarang

Mereka membuat program diary Anak Berani Terbuka Anti KSA (Aber-Tesa).

Lima Mahasiswa Undip Beri Edukasi Seks kepada  Murid SDN Tambakrejo 3 Semarang
Istimewa
Lima mahasiswa Undip Jurusan Matematika memberikan edukasi seks dan pencegahan kekerasan seksual pada anak (KSA) kepada 2 murid SDN Tambakrejo 3, Semarang. Mereka membuat program diary Anak Berani Terbuka Anti KSA (Aber-Tesa). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG-Lima mahasiswa Undip Jurusan Matematika memberikan edukasi seks dan pencegahan kekerasan seksual pada anak (KSA) kepada  murid SDN Tambakrejo 3, Semarang. Mereka membuat program diary Anak Berani Terbuka Anti KSA (Aber-Tesa).

Kelima mahasiswa itu yakni Rezki S, Andi Nur Wahidiah, Karin Gandeswari, Sri Wahyuni, dan Risa Sabira.

Mereka membuat program penanaman karakter kepada anak melalui beberapa media diary. Guru kelas IV SDN Tambakrejo 3, Ita Rahayu mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa Undip. Ita menganggap edukasi seks pada anak perlu diberikan.

"Program ini bagus, karena di SD ada kegiatan Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan minat baca dan menulis anak. Program ini dapat menanamkan karakter berani, terbuka dan jujur pada anak, terutama kepada orangtua dan bapak ibu gurunya," ujarnya, Jumat (23/6)

Sementara itu, Rezki mengatakan program ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan orangtua terhadap anak.

"Program ini kami terapkan pada murid kelas IV dan V. Diary Aber-Tesa kami besendiri dibuat inovatif dengan penambahan komik strip (komik satu kali baca) dengan tokoh utama kakak beradik Aber dan Tesa, hal ini untuk meningkatkan minat anak untuk menulis diary," ujarnya.

Selain itu, juga ditambah kegiatan edukasi seks mengingat beberapa kasus di Indonesia terjadi karena anak yang tidak paham bahwa hal tersebut seharusnya tidak terjadi kepada mereka. Dengan demikian kegiatan ini diharapkan mampu mencegah terjadinya kasus KSA di Semarang dan menerapkan status Semarang sebagai kota ramah anak.

"Materi edukasi seks tentang organ reproduksi dan perilaku bagaimana cara mereka memperlakukan tubuh mereka yakni tidak boleh ada yang menyentuh. Dan harus bersikap menolak kalau ada orang yang mau menyentuh. Kami menekankan ke anak harus punya karakter berani melapor dan berani teriak serta keterbukaan yang dicurahkan lewat nulis diary dan konseling orangtua supaya orangtua mau meluangkan waktu buat anak," kata Rezki.

Rezki berharap program ini bisa diterapkan di seluruh sekolah di Kota Semarang.

"Kami juga sudah mengajukan ke yayasan Setara milik Dinas Sosial agar mereka mau menerapkan program kami. Untuk para murid kami juga tetap mengadakan pelatihan untuk para guru supaya program ini tetap berkelanjutan dan kami juga kerjasama dengan ibu-ibu PKK di wilayah itu terkait program kami," ujarnya.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebanyak 1.380 kasus KSA pada 2014. Semarang merupakan 1 dari 3 Kota/ Kabupaten di Jawa tengah yang paling banyak terjadi kasus KSA.

"Maraknya kasus kekerasan seksual anak di Indonesia salah satunya karena kurangnya pengawasan dari orangtua terhadap anak, orangtua cenderung sibuk dengan urusan dan pekerjaannya masing-masing sehingga membuat waktu tatap muka dengan anak menjadi berkurang," kata Rezki. (*)

Penulis: galih permadi
Editor: a prianggoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help