TribunJateng/

BRT Trans Jateng

BRT Trans Jateng Tawang-Bawen memang Bagus Tapi Kenapa Shelternya di Atas Trotoar?

BRT Trans Jateng Tawang-Bawen memang Bagus Tapi Kenapa Shelternya di Atas Trotoar? kata Anggota Komisi C DPRD Semarang Joko Sriyono.

BRT Trans Jateng Tawang-Bawen memang Bagus Tapi Kenapa Shelternya di Atas Trotoar?
TRIBUNJATENG/DENI SETIAWAN
Shelter atau Halte Beteng I di depan Beteng Willem II Jalan Diponegoro Ungaran Kabupaten Semarang, Kamis (6/7/2017) sore. Shelter mulai difungsikan bersamaan dioperasionalkannya BRT Trans Jateng Koridor I Stasiun Tawang-Terminal Bawen. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Komisi C DPRD Kabupaten Semarang mengapresiasi kehadiran BRT Trans Jateng Koridor I rute Stasiun Tawang Kota Semarang-Terminal Bawen Kabupaten Semarang yang dioperasionalkan mulai Jumat (7/7/2017) kemarin.

Dilihatnya pula, antusias masyarakat untuk mencoba memanfaatkan transportasi massal selama tiga hari terakhir ini pun cukup luar biasa yang diharapkan dapat terjaga di saat mulai diberlakukannya sistem tiket Senin (10/7/2017).

"Tetapi, di satu sisi yang menurut kami masih menjadi problem keberadaan halte-halte atau shelter BRT di lahan trotoar. Posisinya pun tidak menjorok ke belakang," kata Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Semarang Joko Sriyono.

Kepada Tribun Jateng, Minggu (9/7/2017), Joko meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atau dalam hal ini Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah dapat melihat kembali keberadaan shelter terkait sudah sesuai atau tidaknya penempatannya.

"Ini yang perlu dikritisi bersama. Jangan sampai karena posisi halte BRT tersebut justru mengabaikan kenyamanan serta keamanan publik. Khususnya pejalan kaki. Jangan sampai mereka jadi terganggu karena sulitnya akses berjalan di saat melintasi halte," ujar politisi PAN Kabupaten Semarang itu.

Menurutnya, selain berkait berkurangnya akses pejalan kaki karena beberapa trotoar dijadikan halte BRT, yakni dikhawatirkan dapat menimbulkan kemacetan atau antrian kendaraan di saat armada BRT berhenti di shelter.

"Silakan bisa dilihat sendiri. Contoh mudahnya di Halte Beteng II depan Kantor Pos Jalan Diponegoro Ungaran Kabupaten Semarang atau di depan Beteng Willem II Ungaran. Itu jalur nasional yang hampir tiap detiknya beragam jenis kendaraan," katanya.

Hal serupa juga diamini Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Semarang Bondan Marutohening. Baginya, jangan sampai beroperasinya BRT Trans Jateng Koridor I tersebut justru masih mengabaikan beberapa kepentingan publik lainnya, khususnya pejalan kaki.

"Apalagi, Koridor I Stasiun Tawang-Terminal Bawen merupakan koridor BRT yang dijadikan percontohan. Karenanya, di antara beberapa kekurangan itu diharapkan dapat diperbaiki dan dievaluasi. Tujuannya adalah agar transportasi massal untuk publik itu benar-benar nyaman, aman, dan layak di berbagai sisi," terangnya.

Dia kembali berharap, dinas terkait dapat merubah posisi shelter. Ketika itu pun sempat disoroti oleh Bupati Semarang Mundjirin pada 2015 silam di saat melihat secara langsung bentuk serta posisi shelter dan meminta untuk dapat digeser menjorok ke belakang.

"Layak itu tidak sekadar dilihat dari armada transportasinya, tetapi juga sarana-prasarana pendukungnya. Satu di antaranya yakni posisi halte atau shelter BRT tersebut. Semoga apa yang kami sampaikan bisa didengar dan ditindaklanjuti," pinta politisi PDIP Kabupaten Semarang tersebut. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help