TribunJateng/

Ngopi Pagi

Membentuk Generasi Lewat Mengantar Anak dan Mengirim Buku

Banyak orang yang menunggu-nunggu datangnya hari ini, tanggal 17 Juli 2017. Sebenarnya, bukan tanggal yang istimewa.

Membentuk Generasi Lewat Mengantar Anak dan Mengirim Buku
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM -- Banyak orang yang menunggu-nunggu datangnya hari ini, tanggal 17 Juli 2017. Sebenarnya, bukan tanggal yang istimewa. Bukan tanggal yang di setiap kalender akan ditandai lewat warna berbeda seperti halnya hari-hari besar nasional dan keagamaan. Namun, penantian datangnya hari ini dapat menimbulkan rasa deg-degan, haru, atau juga senyum bahagia.

Hari ini, banyak orangtua yang akan mengantar anaknya masuk sekolah. Terutama, orangtua yang putra-putrinya masuk Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Dalam hati, akan muncul rasa waswas apakah buah hati bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, mau ditinggal di kelas, juga mendapat teman baru.

Sementara, di jenjang yang lebih tinggi, SMP dan SMA misalnya, para orangtua berharap mereka bisa mengikuti pelajaran secara maksimal. Ada harapan, anak-anak mereka bisa beradaptasi di lingkungan yang lebih heterogen karena, di jenjang ini, latar belakang mulai memengaruhi kehidupan bersosial para pelajar. Juga, keinginan tak ada perundungan atau aksi bully dari teman atau juga kakak kelas.

Di era Menteri Pendidikan dijabat Anies Baswedan, orangtua dianjurkan mengantar buah hati di hari pertama masuk sekolah. Secara psikologis, kehadiran orangtua secara fisik dapat memberi rasa aman dan semangat. Lebih menegaskan, orangtua hadir dan ada saat anak merasa takut masuk ke lingkungan baru.

Tapi, jangan terlalu berlebihan juga. Terkadang, membiarkan anak mengatasi rasa takut lewat cara mereka sendiri menjadi media ampuh. Jangan pernah berpikir cara-cara mereka terlalu sederhana karena memang, dunia anak-anak masih belum sekompleks orang dewasa.

Hari ini juga sangat dinanti para pegiat literasi. Setiap tanggal 17, mereka bisa mengirim buku ke taman baca masyarakat atau perpustakaan di daerah-daerah pelosok di Indonesia secara gratis. Caranya pun cukup mudah, tinggal mengumpulkan buku-buku yang akan dikirim, dikemas dalam paket, dan dikirim ke tujuan lewat kantor pos.

Program kirim buku gratis ini merupakan janji Presiden Jokowi kepada para pegiat literasi. Menurut mereka, menularkan minat baca pada anak-anak di pelosok terganjal biaya mengirim buku yang cukup mahal. Padahal, akses anak-anak itu mendapat buku di daerah mereka sangat rendah.

Program yang baru dimulai Mei 2017 ini ternyata cukup diminati. Dari catatan PT Pos Indonesia, hanya dalam dua bulan (2 kali pengiriman, Mei dan Juni), 7 ton buku sudah dikirim ke pelosok Indonesia. Terbanyak ke wilayah Bali, NTT dan NTB.

Anda yang berminat turut ambil bagian meningkatkan minat baca anak-anak di pelosok, bisa langsung bertindak. Mumpung tanggal 17, langsung saja kemas buku yang tak lagi dibaca yang ada di rak atau di gudang, dan kirim lewat kantor pos. Mari jadikan membaca budaya untuk semakin memperbesar jendela pengetahuan generasi kita. (*)

Penulis: rika irawati
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help