TribunJateng/

Wakil Ketua AEKI Jateng Sebutkan Tiga Jenis Kopi Lokal yang Bakal Hits Tahun Depan

Produksi kopi di Jawa Tengah terus bertumbuh, seiring banyaknya faktor yang membuat biji hitam ini semakin diburu pecinta kopi

Wakil Ketua AEKI Jateng Sebutkan Tiga Jenis Kopi Lokal yang Bakal Hits Tahun Depan
TRIBUN JATENG/HESTY IMANIAR
Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jateng, Moelyono Soesilo (putih), dan kedua pemeran dalam film Filosofi Kopi, Rio Dewanto dan Chicco Jerikho saat menyeduh dan mengenalkan tiga produl kopi Filosofi Kopi saat usai menggelar jumpa wartawan di PT Taman Delta Indonesia, Kawasan Industri Terboyo, Semarang, Senin (17/7/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hesty Imaniar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Produksi kopi di Jawa Tengah terus bertumbuh, seiring banyaknya faktor yang membuat biji hitam ini semakin diburu pecinta kopi.

Dikatakan, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah, Moelyono Soesilo, produksi kopi di Jateng terus mengalami peningkatan meski bertahap.

“Untuk Jawa Tengah sendiri, produksi kopi dari petani kita memang lebih bagus dibanding tahun sebelumnya, meski pada semester pertama tahun ini, jumlah produksi kopi belum sama dengan hasil produksi kopi di semester yang sama tahun lalu. Pada semester pertama 2017 ini, setidaknya produksi kopi mencapai 800-900 ton, sementara tahun lalu, pada semester yang sama, jumlah produksi kopi mencapai 1.800 ton,” katanya usai menggelar jumpa wartawan Film Filosofi Kopi, di PT Taman Delta Indonesia, Kawasan Industri Terboyo, Semarang, Senin (17/7/2017).

Pria yang juga turut mensukseskan film tersebut, menambahkan, hasil produksi kopi pada semester awal 2017 ini turun, lantaran masih terkena dampak El Nino.

Namun, pihaknya berharap, pada semester ke dua 2017 ini, jumlah produksi akan jauh lebih meningkat, karena ada sebagian petani kopi di Jateng yang menunda masa panennya, akibat faktor cuaca, bahkan bulan Ramadan kemarin.

“Saya perkirakan pada semester ke dua 2017 ini akan ada peningkatan jumlah produksi kopi di Jateng, karena El Nino sudah berlalu, sehingga petani kopi bisa meningkatkan jumlah produksi kopi di semester ke dua tahun ini. Sebagai catatan, hasil produksi kopi pada semester ke dua 2016, kira-kira berjumlah 2.300 ton, saya rasa semester ke dua 2017 ini, bisa melebih hasil produksi tahun lalu, di semester yang sama,” paparnya.

Sementara itu untuk pasar ekspor kopi, kata Moelyono, jika tahun 2016 selama satu tahun ekspor kopi mencapai jumlah 4.500 ton, ia berharap tahun ini bisa berjumlah sama dengan tahun lalu untuk pasar ekspor.

“Untuk pasar ekspor tahun ini, saya perkirakan jumlahnya akan sama dengan tahun lalu selama satu tahun, yakni 4.500 ton. Namun, prediksi saya tahun 2018 nantilah, yang akan menjadi masa kejayaan petani kopi, karena pasti jumlah produksi kopi akan jauh meningkat dari tahun ini,” jelasnya.

Moelyono juga menambahkan, untuk terus mendongkark produksi kopi di Jateng, bahkan Indonesia, berbagai produk terbaru juga dikenalkan Moelyono. Yakni, tiga varian kopi, baik dalam bentuk biji dan drip.

“Untuk terus mendongkrak produksi kopi, bahkan meningkatkan masyarakat untuk selalu minum kopi, kami terus melakukan upaya. Selain membuat sekuel film ke dua Filosofi Kopi, membuka kedai Filosofi Kopi di berbagai daerah, kami juga membuat produk kopi dari petani binaan kami,” ucapnya.

Ketiga kopi itu, tersaji dalam tiga varian, yakni, Perfecto (biji kopi dari Ijen, Jatim), Lestari (biji kopi dari Bali), dan Tiwus (dari Jawa Barat), dengan rasa yang berbeda-beda, serta sajian yang lebih moderen, untuk memudahkan masyarakat luas mengkonsumsi kopi tersebut.

Ketiga produk tersebut, disebut Moelyono, berasal dari petani lokal Indonesia, dibawah binaannya, sehingga untuk rasa dan kualitas kopi, pihaknya mengklaim, ketiga kopi itu merupakan kopi terbaik di Indonesia.

“Sebenarnya tiga produk ini sudah ada sejak film Filosofi Kopi pertama diputar, namun memang belum dipasarkan lebih luas. Nah kini, kami sudah siap memasarkannya lebih luas, tidak hanya di kedai-kedai Filosofi Kopi di berbagai daerah di Indonesia, namun juga bisa dibeli dipasar online. Untuk sementara memang masih pasar Indonesia dulu, harapannya setelah mendapat respon yang cukup bagus ini, barulah kita akan merambah ke pasar ekspor,” pungkasnya. (*)

Penulis: hesty imaniar
Editor: bakti buwono budiasto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help