TribunJateng/

M Irfan Suka Baca Buku Biografi Tokoh Kenamaan Biar Tahu Perilaku Sosok Bintang

Mantan pesepakbola Liga Profesional Indonesia, Mohamad Irfan, masih menyempatkan waktunya untuk membaca.

M Irfan Suka Baca Buku Biografi Tokoh Kenamaan Biar Tahu Perilaku Sosok Bintang
tribunjateng/hesty imaniar
Mantan pesepakbola Liga Profesional Indonesia, Mohamad Irfan, masih menyempatkan waktunya untuk membaca buku 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah kesibukannya saat ini menjadi seorang pelatih kepala di PS Unnes dan di Akademi Terang Bangsa, mantan pesepakbola Liga Profesional Indonesia, Mohamad Irfan, masih menyempatkan waktunya untuk membaca.

Dari beberapa buku biografi yang banyak ia baca, pria yang dulu selalu bermain di posisi gelandang ini gemar dan banyak mendapatkan inspirasi dari buku autobiografi beberapa tokoh. Yakni, buku autobiografi dari Ferguson, yang berjudul Sepak Terjang Legenda Old Trafford, karya Dian D Anisa dan kawan-kawan; buku biografi Soekarno, Kuantar ke Gerbang, karya Ramadhan K H; serta buku autobiografi Valentino Rossi, What If I Had Never Tried It (Andai Aku Tidak Pernah Mencobanya), terjemahan dari Doni Suseno.

“Saya selalu senang membaca buku-buku biografi dari berbagai tokoh, apalagi tokoh-tokoh olahraga. Tidak hanya sepakbola, tetapi olahraga lainnya pun saya sering kali membaca. Karena, ketika saya membaca buku autobiografi tokoh besar, setidaknya saya juga ikut belajar untuk menjadi besar,” katanya ditemui Tribun Jateng, Kamis (27/7) malam.

M “Kecil” Irfan, begitu ia akrab disapa ini, mengawali karir di dunia lapangan hijau profesional, sejak usia 18 tahun. PSIS Semarang merupakan klub profesional kali pertama ia bela, tepatnya di tahun 2002, hingga empat musim ke depan. Banyak pengamalan berarti yang ia dapatkan dari karirnya di sepakbola, terutama pembentukan mental serta perilaku. Bagaimana menjadi seorang pemain bintang saat itu, M Irfan belajar banyak dari buku-buku biografi yang ia baca, selain juga banyak ditempa menjadi seorang pesepakbola dengan mental baja dari rekan-rekan serta manajemen di PSIS saat itu.

“Sosok Ferguson serta Bambang Pamungkas yang kali pertama menginspirasi saya, karena keduanya memang berkecimpung di bidang yang sama dengan saya. Mereka adalah sosok orang hebat yang berkarir di sepakbola. Ferguson misalnya, siapa yang tidak kenal dia. Sang legenda dari Old Trafford ini memiliki jiwa pemimpin yang luar biasa, mental yang hebat, serta pendirian, dan konsistensi yang luar biasa di sepakbola, dan saya belajar banyak dari sosoknya melalui buku biografinya itu,” jelas pria yang saat ini tengah fokus menyelesaikan pendidikannya di Universitas Negeri Semarang (Unnes) Semarang, dengan fokus pada Magister (S2) Pendidikan Olahraga.

Dari buku biografi Ferguson setebal 199 halaman itu, ia mempelajari bagaimana sosok insan sepakbola yang tegas serta mempunyai pendirian yang teguh. Apalagi, saat ini ketika ia tengah fokus meniti karir di dunia pelatih, sikap tegas Ferguson coba ia terapkan pada anak asuhnya.

“Dia sosok insan sepakbola hebat, dia memiliki pendirian serta tegas di lapangan. Meski ia pernah gagal juga, namun ia mampu membangun sepakbola di Old Trafford dengan amat sangat luar biasa. Apalagi ketegasannya kepada pemain. Tidak ada pemain emas atau diistimewakan bisa menjadi contoh untuk saya yang berperan sebagai pelatih di pembinaan sepakbola usia dini,” ujar M Irfan.

Pria yang memutuskan gantung sepatu pada tahun 2015 lalu, saat sepakbola Indonesia tengah dibekukan, maka ia dituntut untuk memiliki tujuan serta program ke depan yang terarah untuk karirnya kedepan, adalah hal yang ia dapatkan dari sosok Ferguson.

“Dia itu selalu memiliki program yang jelas serta terarah untuk karirnya di dunia sepakbola. Dia memulai semuanya dari nol. Begitu pula dengan saya,” paparnya.

Selain sosok Ferguson, pebalap MotoGP asal Italia, Valentino Rossi juga dijadikannya rujukan sebagai sosok yang ramah, baik di dalam lapangan dan di luar lapangan. Buku terjemahan dari Doni Suseno, What If I Had Never Tried It, dengan tebal 302 halaman itu menggambarkan Rossi adalah sosok yang ramah, cerdas, serta bisa menempatkan dirinya di lingkungan mana pun.

"Rosi memiliki attitude yang baik. Tanpa attitude baik, karir seorang bintang besar akan cepat selesai. Begitu pula dengan seorang pesepakbola seperti saya waktu itu,” kata mantan pemain PSIS Semarang, PSS Sleman, PSIM Yogyakarta, Persijap Jepara, Barito Putra, Persibo Bojonegoro itu.

Pria kelahiran Tegal 1 Januari 1981 ini juga mengagumi ketokohan Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

"Sosok Bung Karno tergambarkan tegas, ngayomi, kharismatik. Nah sikap seperti ini perlu ditumbuhkan kepada calon-calon pesepakbola hebat dari sisi skill dan mental dalam upaya pembibitan pemain sepakbola saat ini,” tutupnya. (tribunjateng/cetak/hei)

Penulis: hesty imaniar
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help