TribunJateng/

Liputan Khusus

Apakah Hanya Karena Murah Produser Film Sering Syuting di Kota Lama?

Tetapi, proses perizinan syuting di Kota Lama dianggap masih abu-abu. Artinya, belum ada pengelola yang memasang tarif resmi untuk keperluan tersebut.

Apakah Hanya Karena Murah Produser Film Sering Syuting di Kota Lama?
tribunjateng/dok
Syuting Film di Kota Lama Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Proses pengurusan syuting di Jateng jauh lebih mudah dibandingkan dengan daerah lain seperti Jakarta. Hal itu menjadi satu sebab banyaknya production house yang mempertimbangkan provinsi ini sebagai pilihan utama.

"Yang jelas relatif lebih gampang kalau di Jawa Tengah. Makanya banyak sekali produsen film memilih syuting di Semarang, termasuk Yogyakarta, karena cost-nya (biaya) bisa lebih ditekan," kata Produser Fast Films, Hamdani Kustoro, kepada Tribunjateng.com, baru-baru ini.

Seperti di Jakarta, menurut dia, kadang para pembuat film terbentur dengan proses perizinan yang agak susah, seperti berlapis-lapis. Ketika ditelusuri masalahnya, ada pada oknum yang bermain menjadi makelar proyek.

Dugaan itu diperkuat dengan besaran biaya yang tidak sebanding dengan penerimaan kas pemda.

"Itu sempat ramai di Jakarta. Sebab beberapa daerah di luar memberikan peraturan izin lebih mudah. Sampai akhirnya Pak Ahok (mantan Gubernur DKI Jakarta-Red) dulu mengundang kami para production house mempertanyakan kenapa tidak memilih syuting di Jakarta, lalu memberikan kemudahan," paparnya.

Selain itu, Hamdani menuturkan, karena lokasi-lokasi tempat wisata dan peninggalan sejarah sangat diminati para pembuat film, sehingga saat itu mau tidak mau harus mengeluarkan biaya besar karena faktor kebutuhan. Belum lagi masalah preman yang meminta uang saat syuting.
"Sejak setahun lalu sebelum Pak Ahok masuk (penjara-Red) pemprov (DKI Jakarta-Red) ngasih hotline. Jadi apabila dipersulit bisa langsung telepon dan segara ditindaklanjuti," imbuhnya.

Namun, menurutnya, di Jateng masih kondusif, masalah semacam itu belum terjadi, termasuk premanisme. Sejauh ini banyak sineas yang memilih syuting di Jateng karena lebih mudah dan murah tiga kali lipat dibandingkan dengan di Jakarta.

"Tapi saya tidak tahu pasti angkanya berapa. Yang jelas syuting di Jakarta bisa dua sampai tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan di Jateng," jelasnya.
Hamdani berharap, para sineas bisa mendapatkan kemudahan dalam proses perizinan syuting. Sebab, bagaimanapun hal itu sebenarnya bisa menguntungkan kedua belah pihak, seperti misalkan mengangkat potensi wisata.

"Contohnya di Labuan Bajo, kami diberi kemudahan syuting iklan di sana, sehingga sekarang terekspos dengan baik, wisatanya meningkat, yang belum tahu menjadi tahu," urainya.
Hamdani menyebut, lima tahun lalu pernah syuting produk Kuku Bima di Kota Lama, tepatnya di depan Gereja Blenduk. Saat itu, proses perizinan relatif mudah, meski ia lupa membayar pengurusan izin hingga berapa rupiah.

"Pokoknya kalau endak berat (harganya-Red) kami tidak mempertanyakan, angka-angka yang berubah pun tidak kami pertanyakan, yang jelas relatif lebih gampang kalau di Jateng," imbuhnya.

Seperti diketahui, kawasan Kota Lama Semarang menjadi lokasi primadona sineas nasional untuk melakukan syuting film. Bahkan, para sineas mengakui, di Indonesia hanya dua kawasan heritage yang layak untuk syuting film, yaitu Kota Lama Semarang dan Kota Tua Jakarta.

Demikian disampaikan penyedia jasa lepas rumah produksi, Agus Bejo, baru-baru ini. Menurut dia, kawasan berjuluk The Little Netherland itu lebih menjadi jujukan karena keasliannya, murah, serta akses yang mudah untuk film bertema sejarah.

Tetapi, proses perizinan syuting di Kota Lama dianggap masih abu-abu. Artinya, belum ada pengelola yang memasang tarif resmi untuk keperluan tersebut.

"Tidak ada tarif pasti, semua tergantung kebutuhan. Misal jika harus meng-clear-kan area, maka selain kepolisian juga izin ke Dinas Perhubungan," ujarnya.
Akibat hal itu, Agus menyatakan, proses pengurusan izin pengambilan gambar pun dilakukan door to door ke masing-masing instansi, atau pihak terkait. Sehingga, kondisi itu rawan terjadi pungutan liar. (tribunjateng/cetak/lipsus)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help