TribunJateng/

Serka Darwis Bergelantungan di Atas Sungai Demi Pendidikan Anak-anak Desa

Berbekal tali slag atau katrol, selembar papan, dan bambu, seorang prajurit TNI tampak bergelantungan di atas sungai beraliran deras yang cukup lebar

Serka Darwis Bergelantungan di Atas Sungai Demi Pendidikan Anak-anak Desa
YOUTUBE
SERKA DARWIS Berbekal tali slag atau katrol, selembar papan, dan bambu, bergelantungan di atas sungai beraliran deras yang cukup lebar di Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra). Hari-hari Serka Darwis seberangkan anak-anak sekolah menggunakan tali. 

TRIBUNJATENG.COM - Berbekal tali slag atau katrol, selembar papan, dan bambu, seorang prajurit TNI tampak bergelantungan di atas sungai beraliran deras yang cukup lebar di Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Ia adalah Sersan Kepala (Serka) Darwis, prajurit TNI Korem 143/HO Kendari. Keberadaannya di atas sungai itu bukan untuk main-main, melainkan membantu sejumlah anak menyeberangi derasnya arus sungai Ranteangin untuk bersekolah.

Setiap hari, anggota Babinsa Lalusua, Kolaka Utara itu harus bertaruh nyawa melintasi sungai selebar 60 meter tersebut. Aktivitas penuh risiko itu dilakoninya sejak 2012 silam.

VIDEO SERKA DARWIS BERGELANTUNGAN

"Satu kali seberangkan anak-anak untuk sekolah bisa tiga orang, bahkan anak kecil saya gendong dengan pakai sarung. Supaya aman, tali dililitkan di badan anak-anak kalau mau nyeberang," tutur Darwis, dihubungi via telepon, Sabtu (5/8).

Kondisi itu terjadi karena tidak ada jalan alternatif lain yang bisa digunakan warga Desa Maroko, Kecamatan Wawo untuk menuju Desa Tinakari, Kecamatan Ranteangin, Kolaka Utara.
Di desa itu belum terdapat fasilitas pendidikan ataupun pasar, sehingga warga Desa Marako harus menyeberangi sungai agar bisa sampai tujuan.

Kondisi tersebut sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun, tetapi hingga kini Pemerintah Daerah Kolaka Utara tidak kunjung membangun jembatan penghubung dua wilayah itu.
"Kalau cuaca bagus bisa dibantu sama kakak-kakaknya, kalau cuaca buruk saya harus ada di situ karena berbahaya," ujarnya.

Darwis bercerita, sebelum ada alat tali gantung, anak-anak harus menyeberangi sungai dengan rakit darurat yang terbuat dari batang pohon pisang.

Namun, warga kemudian berswadaya membeli peralatan tali, bambu, dan papan untuk membuat jembatan tali tersebut. Ketinggian gantungan tali yang menjadi jalur penyeberangan warga dari permukaan air sekitar 7 meter.

Pada musim kemarau, kedalaman air sungai sekitar 2 meter, sedangkan saat musim hujan, ketinggian air mencapai 6 meter.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help