TribunJateng/

Marak Gojek dan Grab, Beberapa Tukang Becak Terpaksa Menginap di Pangkalan

Apa kabar para tukang becak setelah kini marak ojek online dan grab atau taksi online. Mereka lebih cepat, smart, modern dan praktis. Namun si tukang

Marak Gojek dan Grab, Beberapa Tukang Becak Terpaksa Menginap di Pangkalan
tribunjateng/mahasiswa UIN magang
Apa kabar para tukang becak setelah kini marak ojek online dan grab atau taksi online. Mereka lebih cepat, smart, modern dan praktis. Namun si tukang becak pun tetap eksis meski banyak saingan. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Apa kabar para tukang becak setelah kini marak ojek online dan grab atau taksi online. Mereka lebih cepat, smart, modern dan praktis. Namun si tukang becak pun tetap eksis meski banyak saingan.

Keberadaan BRT Semarang, Gojek, Grab membuat para tukang becak harus bersaing dalam menjangkau penumpang.

Memang kalah cepat akan tetapi Sutikno (55) tukang becak ini tetap kerja keras demi menafkahi keluarganya.

Iya, Sutikno asal Gonoharjo Semarang sejak 1990 sering mangkal di depan Stasiun Tawang mengais rezeki.

"Saiki wong-wong luwes milih Gojek timbang numpak becak. Beda karo jaman mbiyen tahun 1990an," tutur Sutikno dijumpai tribunjateng.com, Kamis pekan lalu (3/3/2017).

Diakuinya kini penghasilan dari mengayuh becak menurun drastis. Entah apa yang akan dilakukan selanjutnya demi mencukupi kebutuhan keluarga. Belum ada pilihan lain.

Dalam sehari Sutikno biasanya dapat 4 penumpang. Kalau lagi musim liburan bisa lebih dari itu. Mengenai harga ya kesepakatan antara penumpang dengan tukang becaknya.

Untuk tarif wisata keliling Kota Lama, dari stasiun Tawang ia tawarkan Rp 20 ribu untuk wisatawan lokal. Untuk wisatawan mancanegara, mulai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu dalam sekali angkut. Menurutnya, beban wisatawan asing lebih berat dari pada wisatawan lokal.

Meskipun dia asli Semarang, namun hanya pulang seminggu sekali. Dia lebih sering menginap di area Stasiun Tawang bersama para tukang becak. Menurutnya kalau sering pulang, biaya bengkak. Biasanya Rp 50 ribu sehari, itu penghasilan kotor, belum termasuk makan, jajan, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan Legimin (79), lelaki asal Krapyak, Semarang, yang masih setia menjadi tukang becak sejak tahun 70an.

Tempat pangkalan Legimin berada di bawah jembatan penyeberangan pasar Karangayu. Ia bercerita mengenai suka duka menjadi tukang becak lebih dari 30 tahun. Menurutnya zaman dulu dan sekarang sudah sangat berbeda.

Sekarang, penghasilan Legimin tidak menentu, asalkan cukup untuk makan dan jajan.

Dalam sehari penghasilan paling banyak hanya Rp 80 ribu. Meski sedikit tetap dia syukuri.

Setiap hari, Legimin berangkat pagi hingga sore. Khusus Minggu ia jadikan hari libur untuk istirahat lebih lama di rumah bersama keluarga. Tarif yang ia pasang sesuai dengan jarak tempuh. Rute yang Legimin tuju antara lain PRPP dan Anjasmoro.

Biasanya tarif becak dari pasar Karangayu sampai jalan Anjasmoro Rp 15 ribu. Bahkan sering kali ditawar penumpang sesuai kesepakatan. Pria yang sudah mempunyai 3 buyut ini mengaku tidak bosan menjadi tukang becak. Ia menikmati pekerjaan ini selama masih kuat daripada hanya bersantai di rumah saja. (tribunjateng/risalatul mungawanah/mahasiswa UIN magang)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help