TribunJateng/

Namanya Warung Makan Roh Halus, Menu yang Disajikan Bunga Segar, Omzetnya Sampai Rp 8 Juta/Hari

Namanya Warung Makan Roh Halus. Menu yang disediakan pun bukan untuk manusia tetapi makluk astral. Omzet yang didapat bisa mencapai Rp 8 juta per hari

Namanya Warung Makan Roh Halus, Menu yang Disajikan Bunga Segar, Omzetnya Sampai Rp 8 Juta/Hari
BBC Indonesia
Pelanggan Warung Makan Roh Halus sedang antre membeli pesanan. Mereka berasal dari kalangan biasa sampai abdi keraton Yogyakarta. 

Kalau lapar emosinya timbul
Menurut Bambang, ada satu kemiripan antara roh halus dan manusia. "Kalau manusia lapar emosinya yang timbul".

"Begitu juga roh halus, pas ada yang tidak dituruti dan kita tidak bisa menjinakkan, nanti ada efeknya juga," kata Bambang.

Apa efeknya? "Nanti bisa kesurupan, ada hal-hal yang aneh. Seperti kena sawan, badan kok lemas. Hal-hal seperti itu yang kita khawatirkan".

Tri menimpali, roh halus yang mudah ngamuk kalau lapar itu macam-macam jenisnya. Sebab, menurutnya, roh halus juga punya karakter, ada yang kasar ada yang biasa.

"Kalau yang kasar kayak buto ijo, itu kan untuk ingon-ingon (peliharaan). Itu kalau tidak dikasih makan mesti ngamuk. Setiap Jumat Kliwon, Selasa Kliwon mesti dikasih makan," kata Tri.

Bunga Segar menjadi satu menu yang selalu ada di Warung Makan Roh Halus Yogyakarta.
Bunga Segar menjadi satu menu yang selalu ada di Warung Makan Roh Halus Yogyakarta. (BBC Indonesia)

Tahayul?
Pada masanya, tradisi ini berlangsung lancar-lancar saja. Belakangan, sekelompok masyarakat beralih ke pemahaman Islam lebih konservatif, menganggap hal ini merupakan tahayul, bentuk kemusyrikan yang harus diberantas.

"Saya Muslim tapi kita juga percaya ada alam lain," ujar Bambang, yang teguh memegang tradisi Jawa.

Sementara itu, Raden Mas Hertriasning keturunan Keraton Yogyakarta dari Hamengku Buwono VIII yang rutin menggelar ritual caos dahar mengatakan, "Agama tanpa budaya tidak mengalami proses aktualisasi, begitu pula budaya kalau tanpa agama nanti juga tidak punya landasan".

"Kalau ada yang bilang itu musyrik (menyimpang dari agama) ... mungkin cara pandang mereka agak berbeda. Penyampaian batiniah secara Jawa tidak mungkin sama dengan penyampaian batiniah secara agama, tapi intinya kan semuanya memuja kepada yang satu titik". (BBC Indonesia)

Editor: rika irawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help