TribunJateng/

FOCUS

Berebut (Energi) Indonesia

Menteri ESDM Indonesia Ignasius Jonan mendorong tiap daerah memanfaatkan sumber energi yang ada di daerahnya.

Berebut (Energi) Indonesia
tribunjateng/bram
Galih P Asmoro wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menteri ESDM Indonesia Ignasius Jonan mendorong tiap daerah memanfaatkan sumber energi yang ada di daerahnya.

Hal tersebut ia ucapkan setelah mengisi materi seminar di Universitas Muhammadiyah Solo (UMS), Sabtu (5/8). Dengan memanfaatkan sumber daya energi yang ada di daerah, maka bisa dikatakan daerah tersebut telah mandiri dalam pengelolaan energinya.

Dicontohkan Jonan, jika di daerah tersebut terdapat sungai, bisa dimanfaatkan sebagai energi listrik dengan memanfaatkan arus yang ada. Meskipun kecil, hal itu tidak jadi masalah lantaran yang terpenting adalah kemandirian energi di daerah itu.

Bicara soal kemandirian energi, apa yang dikatakan Jonan itu sangat tepat. Lantaran Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki potensi sumber energi sangat besar di dunia. Bahkan Indonesia menjadi "rebutan" bangsa lain karena sumber daya alam, terutama energinya.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berkali-kali mengatakan, dari semua konflik yang terjadi di dunia lebih dari 70 persen disebabkan adanya perebutan sumber energi. Dan yang diperebutkan dalam proxy war adalah pangan, air serta energi dimana Indonesia memiliki semua sumber daya itu.
Mckinsey Global Institute memprediksi Indonesia dapat menjadi negara maju pada tahun 2030.

Syaratnya, Indonesia harus bisa mengelola potensi sumber daya alam secara maksimal. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar, terutama sektor pertanian/kelautan, kehutanan, dan pertambangan.

Pertanian/kelautan, kehutanan dan pertambangan memiliki hubungan yang sangat erat, yakni korelasi ketahanan pangan dan kemandirian energi. Sebut saja masih banyak petani di daerah yang harus mengeluarkan banyak uang untuk dapat mengairi sawahnya. Lantaran, mereka harus membeli solar karena air harus disedot sebelum mengaliri areal pertanian. Tentu akan menjadi ironis ketika ketahanan pangan tidak bisa mendorong kemandirian energi atau sebaliknya.

Padahal, sampah pertanian yang mereka hasilkan, bukan tidak mungkin diolah menjadi energi pengganti solar layaknya pemanfaatan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPAP) Jatibarang. Sampah yang semula menggunung, ternyata bisa disulap menjadi energi pengganti elpiji untuk memasak warga sekitar.

Selain lebih ramah lingkungan, tentunya energi seperti itu sangat berdampak bagi perekonomian warga. Mereka tidak perlu lagi merogoh koceknya membeli sumber energi untuk memasak. Terlebih lagi, jika sumber energi seperti itu, kotoran hewan misalnya, jadi sumber pembangkit listrik. Hasilnya, tiap peternakan atau wilayah dimana warganya memiliki banyak ternak bakal mandiri secara energi.

Jika hanya dari sampah saja Indonesia sudah bisa menciptakan kemandirian energi, tentu dengan sumber daya alam lainnya, Indonesia bisa sejajar dengan bangsa-bangsa besar lain di dunia. Jika kita tidak bisa mengolah sumber daya yang dimiliki sehingga ketahanan nasional tidak tercipta, wajar saja jika bangsa lain terus berebut Indonesia karena kita dianggap bangsa yang lemah. (tribunjateng/galih p asmoro)

Penulis: galih pujo asmoro
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help