TribunJateng/

Harga Garam di Tingkat Petani Terus Merosot, Inilah Penyebabnya

Dibandingkan harga tahun lalu, petani sedikit untung. Harga tahun lalu hanya bisa menembus kisaran Rp 40 ribu per tombong.

Harga Garam di Tingkat Petani Terus Merosot, Inilah Penyebabnya
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Petani garam bekerja di tengah tambak di Kecamatan Kedung, Jepara 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Harga garam di tingkat petani makin menurun.

Saat ini harga kristal putih itu sekitar Rp 90 ribu per tombong (80 kilogram) atau Rp 1.125 per kilogram.

Sebelumnya harga per tombong bisa mencapai Rp 350 ribu.

Kemudian beberapa minggu yang lalu terjadi penurunan harga sehingga per tombong berkisar Rp 150 ribu per tombong.

Lafiq, petani garam asal Desa Panggung, Kecamatan Kedung, Jepara menengarai turunnya harga disebabkan menurunnya permintaan garam petani di pasaran.

Penurunan harga masih mungkin terjadi.

Dia tak bisa menaksir di titik berapa kemerosotan harga itu berhenti.

"Lihat cuaca dulu. Kalau cuaca terus panas, bisa jadi makin turun. Karena permintaan sepi padahal hasil panen dari petani terus ada," kata Lafiq kepada Tribunjateng.com, Minggu (27/8/2017).

Saat ini garam masih dalam musim panen.

"Cuaca masih panas tapi belum tahu sampai kapan cuaca panas seperti ini berlangsung," ujar ketua Kelompok Usaha Bersama Tirta Petani itu.

Dibandingkan harga tahun lalu, petani sedikit untung.

Harga tahun lalu hanya bisa menembus kisaran Rp 40 ribu per tombong atau Rp 500 per kilogram.

"Harapan sebagai petani adalah pemerintah memperhatikan kami. Jadi tak selalu mengalami harga rendah," jelasnya. (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help