Nenek Ayuni Pingsan saat Jaksa Akan Menahannya dalam Kasus Dugaan Pemalsuan Riwayat Tanah

Nenek 78 tahun nyaris pingsan saat jaksa dari Kejari Gresik akan menahanya. Dia diduga terlibat dalam pemalsuan riwayan tanah.

Nenek Ayuni Pingsan saat Jaksa Akan Menahannya dalam Kasus Dugaan Pemalsuan Riwayat Tanah
surabaya.tribunnews.com/Sugiyono
Nenek Ayuni saat hendak dilarikan ke RS menggunakan kendaraan, Senin (28/8/2017). Perempuan 78 tahun ini nyaris pingsan saat hendak ditahan oleh jaksa dari Kejaksaan Negeri Gresik. 

TRIBUNJATENG.COM, GRESIK - Ayuni, nenek 78 tahun, dari Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Senin (28/8/2017), harus dilarikan ke rumah sakit.

Perempuan itu mendadak lemas dan nyaris pingsan saat berada di kantor Kejaksaan Negeri Gresik. Hal itu terjadi saat dia hendak ditahan karena tersangkut dugaan tindak pidana pemalsuan riwayat tanah.

Ayuni merupakan kakak Suliono, pria yang juga diduga terlibat dalam dugaan pemalsuan tersebut. Selain Suliono, Kades Prambangan, Feriantono, juga dituduh terlibat.

Soal tuduhan itu, Feriantono menyampaikan pembelaan. Menurut dia, pembuatan surat riwayat tanah yang dimiliki Ayuni dan Sulistiono adalah berdasarkan buku desa.

"Saya membuat surat riwayat tanah berdasarkan buku leter C desa. Sehingga, tidak mungkin saya memalsukan riwayat tanah. Saya membela warga saya yang selalu bertani di lahannya sendiri," kata Feriantono, Senin (28/8/2017).

(Baca: ASTAGA, Petugas Keamanan di Rumah Dinas Bupati Klaten Ini Dilibatkan dalam Jual Beli Jabatan)

Perkara yang melibatkan tiga orang ini bermula dari laporan seorang bernama Felik Soesanto ke Polda Jatim pada 2016 silam.

Sebelum itu, terjadi jual beli tanah antara Felik dengan keluarga Ayuni pada 2012. Obyek jual belinya adalah lahan seluas lebih dari 2 hektar.

"Ternyata, dalam buku jual beli tertera 3 hektar. Sehingga, dari 3 hektar itu, ada lahan seluas 9.800 meterpersegi yang saya buatkan surat riwayat tanah sesuai permintaan Suliono dan Bu Ayuni. Sebab, keduanya ini pemilik tanah yang sah," kata Feriantono.

(Baca: Polisi Periksa Sejumlah Saksi Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Penolakan Pabrik Semen Rembang)

Sampai sore hari, proses penahanan Feriantono, belum bisa dilaksanakan sebab Nurul Yatim Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Kabupaten Gresik, bersama kades-kades meminta untuk penangguhan penahanan.

"Kami sudah menghadap Pak Kajari untuk meminta penangguhan penahanan. Tapi, apakah dikabulkan atau tidak, itu kewenangan Kajari," mata Nurul Yatim.

Sementara, Humas Kejari Gresik Luthcas Rohman tak memberi keterangan detail terkait penahanan atas dugaan pemalsuan riwayat tanah itu. "Nanti kita dalami dulu," kata Luthcas. (surya.co.id)

Editor: rika irawati
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved