TribunJateng/

OPINI

Makna Idul Qurban

Selain diberi nama “Hari Raya Haji”, Idul Adha juga disebut sebagai “Idul Qurban”, karena kaum muslimin pada hari ini juga menunaikan ibadah qurban

Makna Idul Qurban
TRIBUN JATENG
Dr Aji Sofanudin, M.Si, Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang 

Opini ini ditulis oleh Dr Aji Sofanudin, M.Si, Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Mafhum bahwa Iduladha dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”. Hal ini karena kaum muslimin di seantero dunia sedang menjalankan ibadah haji di tanah suci. Para jamaah sedang menunaikan rukun haji yang utama, yakni wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian ihram yakni pakaian yang serba putih dan tidak berjahit. Hal ini melambangkan adanya persamaan tatanan nilai yaitu semuanya sama di hadapan Allah, entah itu pejabat entah rakyat semuanya sama. Tidak ada perbedaan diantara mereka, semuanya sederajat.

Selain diberi nama “Hari Raya Haji”, Idul Adha juga disebut sebagai “Idul Qurban”, karena kaum muslimin pada hari ini juga menunaikan ibadah qurban, menyembelih kambing, unta atau sapi.Qurban merupakan perintah Allah sebagai wujud kesyukuran kita, akan nikmat Allah (QS Al-Kautsar: 1-2).

Qurban berasal dari kata “qoroba” yang berarti dekat atau mendekatkan diri. Sehingga yang dimaksud dengan Qurban ialah menyembelih hewan ternak berupa kambing/unta/sapi dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.Kemudian, dagingnya diberikan utamanya kepada fuqoro wal masaakiin yakniorang-orang fakir dan miskin, untuk yang berqurban, dan bisa juga sebagai hadiah.

Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari pelaksanaan Qurban.Pertama, berqurban mengajarkan jiwa ikhlas. Ikhlas merupakan jiwa tunduk secara total kepada Allah SWT sehingga melahirkan pribadi yang tidak pamrih dalam berbuat kebaikan. Mereka yang hidupnya ikhlas akan mampu membebaskan diri dari hasrat-hasrat sesaat, mereka punya ciri: suka menolong, berbagi, dan peduli. Mereka berbuat mulia atasnama Allah untuk ihsan bagi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Siapapun yang berqurban dalam ritual Islam sejatinya menambatkan peribatan itu pada niat ikhlas hanya untuk Allah semata. Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, begitu pesan Alqur’an.

Syariat ibadah Qurban dimulai dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail. Seorang anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun karena istrinya dikisahkan lama mandul. Nabi Ibrahim senantiasa berdoarabbi habli minas sholihin. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.

Allah lalu memberi kabar gembira dengan anugerah kelahiran seorang anak yang amat cerdas. Hanya saja, ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim diuji dalam sebuah mimpi untuk menyembelih Ismail. Mimpinya berulang-ulang, sehingga ia yakin bahwa ini adalah perintah Allah.

Kemudian Nabi Ibrahim berkata kepada anaknya Ismail, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?"Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah Engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya ke suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrahim membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di atas tanah dan siap disembelih. Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan.

Halaman
12
Editor: bakti buwono budiasto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help