TribunJateng/

HEBOH Kemunculan Embun Upas di Dieng Saat Suhu di bawah 0 Derajat Celsius

Musim kemarau sedang memasuki puncaknya. Di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara Jateng suhu di bawah 0 derajat Celsius

HEBOH Kemunculan Embun Upas di Dieng Saat Suhu di bawah 0 Derajat Celsius
tribunjateng/khoirul muzaki/ist

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Musim kemarau sedang memasuki puncaknya. Di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara Jateng suhu di bawah 0 derajat Celsius, ditandai dengan munculnya embun beku, atau biasa disebut Embun Upas, yaitu embun beracun.

Jumat pagi, (1/9/2017), tepat hari raya Idul Adha, adalah awal kemunculan bun upas di musim kemarau tahun ini. Suhu di bawal nol derajat celcius waktu itu memunculkan hawa dingin menusuk tulang.

Butiran-butiran embun yang menempel di reremputan dan tanaman tiba-tiba membeku. Hamparan padang rumput yang biasanya hijau berubah putih bak diselimuti salju.

Musim kemarau sedang memasuki puncaknya. Di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara Jateng suhu di bawah 0 derajat Celsius, ditandai dengan munculnya embun beku, atau biasa disebut Embun Upas, yaitu embun beracun.
Musim kemarau sedang memasuki puncaknya. Di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara Jateng suhu di bawah 0 derajat Celsius, ditandai dengan munculnya embun beku, atau biasa disebut Embun Upas, yaitu embun beracun. (tribunjateng/khoirul muzaki/ist)

Sinar matahari pagi memendar membuat butiran embun beku di rerumputan berkilauan.

"Bun upas sudah muncul dua kali, tanggal 1 September waktu Idul Adha dan tanggal 2 September. Saat itu memang dingin sekali," kata Kepala Desa Dieng Kulon, Batur Banjarnegara, Selasa (5/9).

Slamet mengungkapkan, kemunculan bun upas, (1/9), diawali dengan sejumlah petanda alam. Kamis sore (31/8), kabut tebal turun dan menyelimuti langit Dieng. Hawa dingin menyengat kulit.

Malamnya, kabut itu berangsur menipis dan hilang, lalu muncul kembali waktu dini hari.

Jumat pagi waktu subuh (1/9), warga mulai keluar rumah untuk salat berjamaah ke masjid. Mereka menebalkan pakaian untuk menahan dingin.

Embun di rerumputan dan dedaunan telah berubah jadi butiran kristal.

Halaman
12
Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help