TribunJateng/
Home »

Bisnis

» Mikro

Kelanggkaan Elpiji 3 Kg

Kesulitan Dapat Elpiji 3 Kg, Warga Terpaksa Beralih Pakai Elpiji Nonsubsidi

"Kalau tetap nunggu ada stok yang 3 kg, bisa jadi keluarga saya tidak makan karena tidak bisa memasak," keluhnya

Kesulitan Dapat Elpiji 3 Kg, Warga Terpaksa Beralih Pakai Elpiji Nonsubsidi
tribunjateng/deni setiawan
Petugas pangkalan gas elpiji 3 kilogram sedang menyusun gas untuk dikirim ke beberapa pelanggan, Jumat (8/9/2017) di Pangkalan Anandhi Putra Dusun Krajan Desa Kelurahan Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang. Pasca Lebaran 2017 ini, jatah di nyaris seluruh pangkalan berkurang sekitar 15 persen per harinya. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Kota Semarang sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. Hal itu membuat warga terpaksa beralih menggunakan elpiji non subsidi yaitu ukuran 5,5 kg.

Warga Sambiroto, Tembalang, Yanti (29) mengungkapkan, kesulitan mendapatkan elpiji bersubsidi atau elpiji melon dirasakan sejak 2 pekan lalu.

"Saya sudah 2 minggu kesulitan dapat elpiji 3 kg. Penjualnya cuma bilang kalau stok kosong. Karena butuh, terpaksa saya beli bright gas 5,5 kg," katanya, Jumat (8/9/2017).

Yanti membeli elpiji tersebut dari pengecer di warung sekitar komplek rumahnya. Dengan membeli bright gas 5,5 kg, Yanti terpaksa harus merogoh kocek lebih banyak dibanding sebelumnya.

Pasalnya ia harus membeli tabung sekaligus gasnya.

"Biasanya kalau elpiji 3 kg kan saya beli Rp 17.000-Rp 18.000. Lha ini terpaksa keluar uang ratusan ribu buat beli yang 5,5 kg karena harus beli tabungnya juga," ucapnya.

Sebenarnya, ia sudah memesan elpiji 3 kg ke pengecer dengan cara meninggalkan tabung gas melon agar ketika ada stok dirinya tinggal mengambil saja. Akan tetapi setelah berhari-hari tidak ada stok juga, ia terpaksa membeli bright gas.

"Kalau tetap nunggu ada stok yang 3 kg, bisa jadi keluarga saya tidak makan karena tidak bisa memasak," keluhnya.

Keluhan kelangkaan elpiji juga dirasakan pedagang kaki lima (PKL) di Pandean Lamper, Gayamsari, Abdul Hamid (45). Untuk tetap bisa berjualan makanan, ia harus bekerjasama dengan pemilik warung yang menjual elpiji 3 kg.

"Sudah sebulan ini memang agak susah dapatin elpiji. Kata penjualnya, kiriman tidak seperti biasanya. Tapi saya minta tiap hari disediakan 2 tabung saja untuk berjualan, gak bisa lebih karena begitu elpiji datang langsung dibeli habis," ujarnya.

Hamid menambahkan, ia pernah mencari elpiji melon tersebut hingga ke Kecamatan lain yang jaraknya beberapa kilometer dari tempat berjualan. Saat itu, ia kehabisan elpiji saat sedang melayani pesanan.

"Pernah puluhan warung pengecer yang jual elpiji saya datangi, tapi tidak ada. Akhirnya ketemu warung yang masih ada sisa karena baru dapat kiriman," tambahnya. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help