TribunJateng/

Dari 16 Kecamatan di Kabupaten Blora, Hanya Satu yang Tak Mengajukan Bantuan Air Bersih

Ada 161 desa di Kabupaten Blora yang terdampak kekeringan. Data dari BPBD kabupaten setempat, kekeringan itu dialami 155.756 KK.

Dari 16 Kecamatan di Kabupaten Blora, Hanya Satu yang Tak Mengajukan Bantuan Air Bersih
TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Warga Desa Deliksari RT 03 RW 06, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Kamis (7/9) mengambil air dari sendang untuk memenuhi kebutuhan air bersih saat musim kemarau. (ILUSTRASI) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Ada 161 desa di Kabupaten Blora yang terdampak kekeringan. Data dari Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) kabupaten setempat, kekeringan itu dialami 155.756 KK dengan luas wilayah 864,175 kilometer persegi.

Kepala BPBD Blora Sri Rahayu mengatakan, mulai pekan ini, pihaknya mulai memasok air bersih ke desa-desa yang mengalami kekeringan. Setiap desa bakal menerima dua tangki air bersih secara bertahap.

Dari 16 kecamatan yang ada di Blora, Sri mengungkapkan, 15 kecamatan sudah mengajukan permintaan pasokan air bersih. Hanya satu kecamatan yang tak mengajukan permintaan air bersih, yakni Kecamatan Kradenan.

“Yang kami prioritaskan desa-desa di Kecamatan Jati. Kekeringan di kecamatan itu lebih banyak dibandingkan di kecamatan lain,” kata Yayuk, Sabtu (9/9/2017).

(Baca: Kekeringan, Warga Deliksari Harus Menimba Air Sejauh Tiga Kilometer)

Sri membuka kesempatan kepada pihak-pihak yang berniat memberi bantuan air bersih. Hanya, diharapkan, mereka berkoordinasi lebih dulu dengan BPBD.

“Tujuannya untuk pemerataan, jangan sampai tumpang tindih. Sehingga, semua desa yang mengalami kekeringan bisa tercover (air bersih),” ujar Yayuk.

Dia memprediksi, puncak kekeringan di Kabupaten Blora terjadi September ini. Dan, masa kekeringan diharapkan berakhir akhir September. (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help