TribunJateng/

Resensi Buku

Korupsi sebagai Kasus Penyakit Jiwa

Bagi Emha Ainun Nadjib, korupsi merupakan penyakit jiwa. Orang yang capai-capai menghabiskan hidupnya untuk hanya mencari harta, memeras energinya, un

Korupsi sebagai Kasus Penyakit Jiwa
tribunjateng/net
Benar apa yang dikatakan Cak Nun dalam buku ini, bahwa korupsi di mana-mana, korupsi hampir di semua lapisan, dari pamong-pamong desa hingga yang paling atas. Korupsi telah menjadi satu bagian sehari-hari kita. 

TRIBUNJATENG.COM - Bagi Emha Ainun Nadjib, korupsi merupakan penyakit jiwa. Orang yang capai-capai menghabiskan hidupnya untuk hanya mencari harta, memeras energinya, untuk menyabet uang siang dan malam, serta menjual harga kemanusiaannya untuk maling hak orang, alias melakukan korupsi, tak ada julukan lain kecuali bodoh, tegang, dan sakit jiwa.

Ilmu pengetahuan tentang dirinya, tentang manusia, tentang dunia, harta, serta tentang hidup dan mati mengalami kekeliruan dan ketidakilmiahan secara mendasar. Ia sangat tegang terhadap segala yang sudah dimiliki, yang akan dimiliki, yang bisa dimiliki, yang tak bisa memiliki, serta yang ingin memiliki. Itulah yang membuatnya sakit jiwa, lalu merusak negara dan rakyatnya (hal 213).

Jika kita berbicara tentang praktik-praktik korupsi di negeri ini, memang seakan-akan tidak akan pernah ada habisnya. Karena realita yang ada di sekitar kita sepertinya sangat sulit lepas dari korupsi. Benar apa yang dikatakan Cak Nun dalam buku ini, bahwa korupsi di mana-mana, korupsi hampir di semua lapisan, dari pamong-pamong desa hingga yang paling atas. Korupsi telah menjadi satu bagian sehari-hari kita.

Pada tulisan lainnya, Cak Nun juga begitu blak-blakan menyentil praktik korupsi yang begitu menjamur di negeri ini. Misalnya pada tulisan berjudul

=================================
Judul Buku : Titik Nadir Demokrasi
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : I, 2016
Tebal : xvi + 272 halaman
ISBN : 978-602-291-165-4
=================================

“Ya Allah, Lindungilah Aku dari Kursi” Cak Nun menceritakan kisah teman dekatnya yang sedang mengalami kebingungan lantaran didaulat oleh para warga agar mencalonkan diri menjadi lurah. Warga begitu percaya dan yakin bahwa jika ia ikut maju mencalonkan diri, maka peluang terpilih sangatlah besar.

Tentu saja ia pusing dan berusaha untuk menolak, karena ia tidak memiliki keinginan menjadi lurah. Betapa ia tak bisa membayangkan jika kelak terpilih menjadi lurah harus mengenakan baju formalitas yang menjadi kebanggaan banyak pemimpin di negeri ini, misalnya memakai sepatu mengkilap dan baju safari bila rapat di rumah Pak Camat.

Selain itu, ia harus mematuhi konspirasi di tingkat tersebut: mungkin sesama lurah, camat, orang koramil, polsek, dan babinsa. Konspirasi yang otomatis mentradisikan kolusi-kolusi perdagangan yang modal utamanya adalah kekuasaan (hal 82-83).

Selain dua judul tersebut, masih banyak tulisan-tulisan lain karya Cak Nun dengan tema beragam yang cukup menarik sekaligus bisa dijadikan renungan dalam buku terbitan Bentang Pustaka ini. (Resensi ditulis oleh Sam Edy Yuswanto, penulis lepas)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help