TribunJateng/

KRISIS ROHINGYA

Pemerintah Myanmar Tolak Gencatan Senjata dengan Gerilyawan Rohingya

Myanmar tampaknya menolak gencatan senjata yang tawarkan oleh gerilyawan Rohingya, yakni Tentara Pembebasan Rohingya Arakan ( ARSA).

Pemerintah Myanmar Tolak Gencatan Senjata dengan Gerilyawan Rohingya
AFP/K M ASAD
Pengungsi Rohingya dan anaknya berlindung di sebuah tenda di kota kecil Teknaf di perbatasan Bangladesh, Selasa (5/9/2017). 

TRIBUNJATENG.COM - Myanmar tampaknya menolak gencatan senjata yang tawarkan oleh gerilyawan Rohingya, yakni Tentara Pembebasan Rohingya Arakan ( ARSA).

Sikap itu disampaikan oleh Zaw Htay, juru bicara pemimpin de factoMyammar, Aung San Suu Kyi, sepeti diberitakan BBC.

Melalui Twitter, Zaw Htay menegaskan, pemerintah tidak akan berunding dengan "teroris".

Penegasan juru bicara pemimpin Myanmar dikeluarkan setelah beberapa jam sebelumnya ARSA, yang mengaku bertindak atas nama warga Rohingya, mengumumkan gencatan senjata selama satu bulan.

Baca: Laudya Cynthia Bella Bakal Gelar Resepsi di Bandung? Ini Kata Melly Goeslaw

Menurut ARSA, penghentian operasi militer selama satu bulan dimaksudkan untuk memungkinkan penyaluran bantuan kemanusiaan di negara bagian Rakhine, tempat sebagian besar warga Rohingya tinggal di Myanmar.

Rakhine dikenal dengan nama Arakan oleh orang-orang Rohingya.

Palang Merah Internasional (ICRC) di Myanmar menyambut deklarasi gencatan senjata sepihak ARSA.

Baca: Klik di Sini untuk Daftar CPNS Gelombang II, Lengkapi Dulu Persyaratannya . . .

Disebutkan oleh seorang pejabat ICRC Joy Singhal bahwa langkah itu merupakan "perkembangan yang sangat positif."

Halaman
12
Editor: bakti buwono budiasto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help