TribunJateng/

LIPUTAN KHUSUS

SEKEN, Anggaran Popnas 2017 di Jateng Minim, Panitia Beli Peralatan Olahraga Bekas Pakai

Kuncoro berujar, sejauh ini pihaknya hanya bisa membeli peralatan habis pakai, seperti bola, net, dan lain sebagainya.

SEKEN, Anggaran Popnas 2017 di Jateng Minim, Panitia Beli Peralatan Olahraga Bekas Pakai
net
ilustrasi bola bekas 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suasana di kantor Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng tampak sibuk meski waktu telah menunjukan pukul 20.00, pada Selasa (5/9) lalu. Beberapa karyawan terlihat masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Tumpukan kertas serta perlengkapan ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2017 menghiasi satu ruangan di sudut kanan lantai dua gedung. Mereka tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah dalam pesta olahraga pelajar se-Indonesia setelah terakhir kali digelar di Jateng pada 1994, atau Popnas ke IV.

Kasi OR Pendidikan dan OR Prestasi Disporapar Jateng, Kuncoro DW menjelaskan, dengan dana terbatas pihaknya ingin Popnas 2017 Jateng berjalan sukses.

Meski tak menyebut anggaran secara pasti, ia sedikit memberi gambaran jumlahnya tidak sebesar pelaksanaan Popnas tahun sebelumnya di Jabar.

Secara umum, alokasi anggaran penyelenggaraan POPNas 2017 terbagi dua, yaitu dari Kemenpora dan APBD Jateng.

"Untuk akomodasi dan konsumsi anggaran dari Kemenpora. Tapi saya tidak bisa menghitung anggarannya Kemenpora berapa, ngak ngerti saya. Saya tahunya anggaran di tempat saya (APBD Provinsi-Red)," katanya, tanpa menyebut angka pasti.

Kuncoro menuturkan, anggaran di Jateng jauh lebih minim dibandingkan dengan Popnas lain, khususnya dari Jabar tahun lalu. Meski begitu, ia berusaha tidak mengurangi makna dari penyelenggaraan ajang itu, agar tetap sesuai standar.

"Setahu saya (Popnas-Red) di Jabar lalu itu anggarannya sekitar Rp 84 miliar, tetapi yang digunakan atau terserap Rp 64 miliar. Beda dengan Jateng, anggaran yang tersedia seperempatnya," jelasnya.

Pria yang dalam susunan kepanitiaan ajang Popnas 2017 itu menjabat sebagi Humas itu menjelaskan, cara menyiasati anggaran yang relatif kecil itu adalah dengan memanfaatkan potensi dimiliki dan tidak semua dibeli.

"Pengeluaran paling besar kan untuk peralatan. Cara menyiasatinya kami tidak beli, tetapi sewa atau pinjam. Semuanya, seperti dayung, itu kalau beli peralatan standar Rp 64 miliar, makanya kami hanya sewa. Kalau dibeli Rp 64 miliar habis uangnya, nggak bisa bangun jalan tol," ucapnya seraya mengumbar tawa.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help