FOCUS

Tuah Pinten-Tangsen

Tuah Pinten-Tangsen. Syahdan, Nakula dan Sadewa terlahir dengan kesaktian alami: menjadi juru sembuh.

Tuah Pinten-Tangsen
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Syahdan, Nakula dan Sadewa terlahir dengan kesaktian alami: menjadi juru sembuh. Cukup dengan sentuhan, atau kadangkala dengan ramuan dedaunan dari hutan, mereka bisa menyembuhkan orang-orang yang didera penyakit.

Ketika perang Bharatayuda--perang besar antara para putra Bharata--berlangsung, Nakula dan Sadewa tidak pernah madeg sebagai senapati, kendati ksatria kembar itu memiliki keterampilan berperang atau menggunakan senjata yang lebih dari memadai. Keduanya
memiliki tugas mulia, sesuai dengan kecakapannya. Mereka bertugas mengobati para prajurit yang terluka.

Pada suatu ketika, Karna jatuh sakit. Kepada siapa Dewi Kunti, ibu kandung Karna, meminta pertolongan? Nakula dan Sadewa yang menjadi jujukan.

Secara khusus, Sadewa dikenal dengan sebutan Sudamala. Sebutan itu dia dapatkan, setelah berhasil membebaskan Batari Durga dari kutukan. Sadewa mengembalikan sang Durga ke wujud jelitanya, Dewi Uma. Dari situlah lahir lakon Sudamala, salah satu lakon ruwatan untuk penghilang sukerta.

Nakula dalam jagat pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten, sebuah nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat. Pun Sadewa memiliki dasa nama atau nama alias Tangsen, buah dari tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan dipakai untuk obat.

Ksatria kembar itu merupakan titisan Batara Aswan-Batara Aswin. Sebagian dalang menyebut, Aswan dan Aswin merupakan dua sosok, dewa kembar. Sebagian lainnya, menyebut Aswan dan Aswin merupakan satu tokoh yang menyatu. Batara Aswan dan Aswin dikenal sebagai dewa pengobatan.

Dalam dunia nyata kita, tentu tak ada Nakula dan Sadewa, yang ringan-tangan-enteng-hati mengulurkan tangan untuk menyembuhkan.

Mestinya, kedua ksatria kembar itu menjelma dalam diri dokter, perawat, rumah sakit, dan institusi pengobatan lainnya. Dari tangan merekalah--dokter dan para koleganya, bukan Nakula dan Sadewa--kita berharap pintu kesembuhan terbuka lebar.

Persoalannya, sudahkah para dokter kita--dan rumah sakit sebagai institusinya--memerankan Nakula dan Sadewa? Yang ringan-tangan-enteng-hati mengulurkan tangan untuk menyembuhkan.

Kisah Nakula dan Sadewa melejing ke benak saya, ketika membaca kisah memilukan tentang bayi tak berdosa, Tiara Debora, yang meninggal di sebuah rumah sakit di Jakarta.

Bayi berusia empat bulan itu tidak tertolong--konon--lantaran berbelitnya administrasi rumah sakit. Tiara Debora meninggal di rumah sakit pada 3 September 2017 silam. Pangkal persoalannya sepele saja. Rumah sakit tempat putra pasangan Henny Silalahi-Rudianto Simanjorang menjalani perawatan belum bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan.

Kisah bayi Debora ini ditulis di media sosial oleh Birgaldo Sinaga, Jumat (8/9/2017). Birgaldo mengaku bertemu langsung dengan Henny Silalahi, ibu bayi Tiara Debora, dan memiliki bukti bahwa kisah yang dialami keluarga itu benar adanya. Dalam tulisannya, Birgaldo menyampaikan kronologi kasus yang menimpa Tiara Debora, termasuk lambannya penanganan oleh rumah sakit lantaran uang muka yang diberikan orangtua bayi tidak cukup untuk. Orangtua Debora hanya memegang uang Rp 5 juta, teramat jauh dari Rp 19,8 juta, besaran uang muka yang dipatok rumah sakit agar Tiara bisa masuk ruang perawatan intensif untuk bayi atau Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pun angkat bicara atas kematian bayi Tiara Debora. Dinas Kesehatan menginstruksikan, rumah sakit akan dilarang meminta bayaran uang muka atau down payment (DP) kepada pasien yang kondisinya sudah gawat darurat.
Dalam instruksi tersebut, Dinas Kesehatan memerintahkan seluruh rumah sakit di Jakarta untuk mendahulukan penanganan pasien gawat darurat tanpa menarik uang muka terlebih dahulu.

"Nanti hari Senin (11/9/2017) kami keluarkan instruksi untuk selanjutnya apabila ada orang yang sakit seperti itu, pertama tidak diperbolehkan menarik uang muka, harus segera menangani pasiennya terlebih dahulu terhadap keadaan kegawatdaruratan itu," ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi Priharto.

Nasi sudah kadung menjadi bubur. Bayi Tiara Debora sudah keburu menghadap Tuhan.
Sayang pula, Nakula dan Sadewa--dan tangan mereka yang senantiasa terulur untuk orang-orang sakit--hanya hidup di jagat pewayangan. Tuah Pinten-Tangsen rupanya tidak hadir di alam nyata. (tribunjateng/Achiar M Permana)

Penulis: achiar m permana
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help