TribunJateng/

Menilik Batas Wilayah Pendudukan Belanda dan RI Hasil Perjanjian Renville di Banjarnegara

Sebuah monumen berdiri kokoh di sisi jalan raya Banjarnegara-Purwokerto, tepatnya di desa Joho, Bawang Banjarnegara

Menilik Batas Wilayah Pendudukan Belanda dan RI Hasil Perjanjian Renville di Banjarnegara
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Monumen perjanjian Renville di Banjarnegara 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG COM, BANJARNEGARA - Sebuah monumen berdiri kokoh di sisi jalan raya Banjarnegara-Purwokerto, tepatnya di desa Joho, Bawang Banjarnegara.

Di atas bangunan permanen berbentuk prisma segi lima itu, patung seorang tentara berdiri gagah memegang senjata laras panjang. Dinding monumen tersebut penuh dengan gambar timbul bewarna.

Pada lukisan itu, sejumlah orang berpakaian rapi lengkap dengan jas berdasi sedang berunding di sebuah forum penting.

Monumen perjanjian Renville di Banjarnegara
Monumen perjanjian Renville di Banjarnegara (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)

Iya. Tugu itu merupakan penanda sejarah penting bangsa Indonesia. Tempat berdiri monumen adalah batas wilayah pendudukan Belanda dan Republik Indonesia dari hasil perjanjian Renville.

Lima puluhan orang dari unsur Muspika, TNI, Polri, pemerintah desa dan warga Joho bahu membahu membersihkan area monumen.

Mereka berbagi tugas. Ada yang membersihkan rerumputan liar di area monumen. Sebagian mengecat ulang bangunan taman dengan cat warna cerah.

Perwira Seksi Teritorial Kodim 0704 Banjarnegara Kapten Inf Suharsana mengatakan, kegiatan itu dalam rangka merawat monumen sejarah yang memiliki arti penting bagi perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan.

"Dengan melibatkan masyarakat, kegiatan semacam ini sekaligus mengingatkan perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kami juga biasa menampilkan pertunjukan drama tentang perjannian Renville untuk mengedukasi masyarakat, "katanya, Rabu (13/9).

Monumen perjanjian Renville di Banjarnegara
Monumen perjanjian Renville di Banjarnegara (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)

Kepala Desa Joho Zuhri Akhmad mengatakan, lokasi monumen dulunya adalah bukit sebelum akhirnya dikepras untuk pembangunan.

Halaman
12
Penulis: khoirul muzaki
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help