TribunJateng/

Candi Ngawen di Muntilan Dikepung Orang-orangan Sawah, Warga Malah Senang

Sejumlah memedi sawah atau orang-orangan sawah mengelilingi area Candi Ngawen di Kecamatan Muntilan, Magelang, Kamis (14/9/2017).

Candi Ngawen di Muntilan Dikepung Orang-orangan Sawah, Warga Malah Senang
tribun jogja/azka ramadhan
Warga mengarak memedi sawah raksasa di Festival Memedi Sawah, Kamis (14/9/2017). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari ucapan syukur masyarakat atas panen melimpah. 

TRIBUNJATENG.COM, MAGELANG - Pemandangan berbeda terlihat di kompleks Candi Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Kamis (14/9/2019). Dari kejauhan, tampak deretan memedi sawah (orang-orangan sawah) mengelilingi area candi.

Keberadaan memedi sawah di lokasi tersebut merupakan bagian dari festival yang diselenggarakan masyarakat setempat.

Sebelum dipamerkan di kompleks Candi Ngawen, orang-orangan sawah yang sehari-hari dipergunakan petani untuk mengusir hama burung tersebut diarak keliling desa, diiringi musik tradisional.

"Tema yang kami ambil pada festival kali ini adalah nasi wiwit dan memedi sawah. Keduanya merupakan bagian dari tradisi yang kami lestarikan. Ada 27 dusun di Desa Ngawen yang ikut berpartisipasi dalam festival ini," ujar Ketua Panitia Festival, AL Saptandyo, Kamis (14/9/2017).

(Baca: Sedekah Bumi Wayang Kulit Dewi Sri Wujud Syukur Warga Desa Dukun)

Ia menambahkan, pemilihan memedi sawah maupun nasi wiwit sebagai unsur utama festival memiliki makna tersendiri. Menurutnya, nasi wiwit merupakan wujud syukur para petani atas hasil panen yang dilimpahkan Tuhan.

"Nasi wiwit dulu dibuat kalau pas mau panen. Ini merupakan wujud syukur dan terima kasih petani karena diberikan hasil panen yang baik. Wiwit juga berati miwiti atau mengawali, yang artinya memulai dengan benih yang baik untuk pertanian selanjutnya," ungkapnya.

Sementara memedi sawah, jelas Saptandyo, terkait fungsi pentingnya dalam melindungi tanaman padi dari serangan burung. Bentuknya yang beragam dan unik tak sekadar menjadi hantu atau sosok menakutkan tetapi juga menjadi daya tarik.

(Baca: Larung Sesaji di Waduk? Ini Cara Nelayan Malahayu Brebes Ucap Syukur Atas Hasil Tangkapan Ikan)

"Khusus untuk festival memedi sawah kali ini, kami membebaskan para peserta membuat memedi dengan wujud dan bahan apa pun, kecuali dari bahan plastik," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga Kabupaten Magelang, Iwan Sutiarso, menganggap, event ini berpotensi menjadi daya tarik wisata Kabupaten Magelang, sekaligus menggerakkan desa wisata dan wisata pedesaan.

"Selain melestarikan tradisi yang sudah ada, melalui event semacam ini, kami berharap, kunjungan wisatawan ke desa wisata bertambah. Kemudian, lama tinggal wisatawan juga meningkat sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat," pungkasnya. (tribun jogja/azka ramadhan)

Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help