TribunJateng/

FOCUS

Naik Stoom Supaya Selamat

Sungguh, jalan raya kita lebih berbahaya daripada rimba belantara. Pertandanya tiada lain, angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas sangat tinggi.

Naik Stoom Supaya Selamat
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Abduh Imanulhaq atau Aim wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sungguh, jalan raya kita lebih berbahaya daripada rimba belantara. Pertandanya tiada lain, angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas sangat tinggi.

Begitu tingginya sampai Menteri Perhubungan Budi Karya, baru-baru ini, menyatakan tiap satu jam ada tiga orang di Indonesia meninggal akibat kecelakaan. Secara simplistis, berarti dalam sehari ada 72 nyawa yang terenggut, sebulan 2.160 orang, setahun 26 ribuan, di jalan raya.

Masalah kematian tentu tak semata-mata soal angka. Namun, bisa menjadi gambaran bahwa jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang meninggal diterkam harimau atau digigit buaya.

Sebagai gambaran, kecelakaan lalu lintas menjadi nomor tiga terbesar penyebab kematian di Indonesia, setelah jantung dan stroke. Kita prihatin karena nyaris setiap hari selalu ada berita mengenai kecelakaan lalu lintas di Tanah Air.

Dekat atau pun jauh dengan tempat kita tinggal. Mulai dari yang tunggal sampai beruntun, korban cuma luka-luka hingga puluhan meninggal dunia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dikerubuti awak media saat meninjau Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (9/8/2016) pagi.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dikerubuti awak media saat meninjau Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (9/8/2016) pagi. (Warta Kota/Banu Adikara)

Menteri Budi Karya secara tepat menyatakan bahwa rem blong tidak boleh lagi menjadi alasan. Memang sudah sering kita dengar dalih ini yang mengemuka ketika sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi.

Klaim itu tentu akan diuji secara profesional oleh aparat yang menyelidikinya. Jangan sampai, musibah yang sebenarnya disebabkan kesalahan manusia ini dikambinghitamkan kepada kendaraan.

Banyak yang percaya bahwa keselamatan di jalan bersifat untung-untungan atau dengan kata lain "tergantung nasib". Sudah berkendara secara benar, kendaraannya laik jalan, taat terhadap aturan, ternyata tetap celaka akibat kesembronoan atau kelalaian pihak lain.

Bukan sekali dua kali kita dapati kasus demikian. Sampai ada guyonan yang beredar di kalangan tertentu bahwa satu-satunya kendaraan yang aman saat melintas di jalan raya adalah stoom, dibaca setum, lengkapnya stoom walls.

Kendaraan ini biasa ditemui saat ada perbaikan atau perawatan jalan. Berwarna kuning, berfungsi memadatkan aspal atau meratakaan permukaan jalan. Ciri khasnya adalah memiliki roda berbentuk silinder besar terbuat dari baja.

Tapi, sekali lagi siapa yang yakin bahwa naik stoom akan membuat keselamatan di jalan raya terjamin? Pengikut mazhab "untung-untungan" tentu percaya bahwa sekali pun naik tank baja, tak bisa menghindar dari kecelakaan ketika pengguna jalan lain lalai.

Faktor penentu keselamatan di jalan raya memang bukan cuma satu melainkan banyak. Ada kultur berkendara, regulasi atau aturan, dan infrastruktur.

Kecelakaan karambol di Jalan Sigarbencah, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (10/9/2017).
Kecelakaan karambol di Jalan Sigarbencah, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (10/9/2017). 

Kelalaian pengguna jalan termasuk dalam faktor kultur tersebut. Kita tahu, kontribusi budaya berkendara yang buruk sebagai penyebab kecelakaan amat tinggi di Indonesia.

Selama ini, lazim dipahami bahwa kecelakaan adalah musibah yang sewaktu-waktu bisa terjadi kapan pun di mana pun kepada siapa pun. Senyatanya, risiko kecelakaan itu bisa dikelola agar jumlahnya minim atau bahkan nihil.

Kalau kultur berkendara baik, pengguna jalan taat aturan, dan infrastruktur bagus, keselamatan bukan lagi barang mahal. Kapankah itu terwujud? Tentu tak perlu menunggu sampai semua orang naik stoom saat bepergian. (tribunjateng/abduh imanulhaq)

Penulis: abduh imanulhaq
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help